Karena hidup bagai menari diatas kerikil kecil, Man jadda wa jada! ^_^

Kamis, Oktober 15, 2015

H I J R A H



HIJRAH
Oleh :
Nurhashifah Agriani

AKU ADALAH SATU DARI KESEKIAN RIBU MANUSIA
LANGKAH DEMI LANGKAH KUTAPAKI DI BUMI 
BUMI YANG MEMBUTAKAN RIBUAN PASANG MATA
BUMI YANG TAK SEBERAPA NAMUN DIANGGAP SANGAT BERHARGA

KALA TUBUH TEGAK DIATAS JAHILIYAH
DUDUK DENGAN MANIS DIATAS KEFANAAN
NAFSU YANG MENGGUNUNG MEREDAM AKAL DAN PIKIRAN

SUNGGUH AKU TAK BISA!
AKU TAK KUASA TUK MENOLAK
MENGIKUTI NAFSU SYETAN PENUH SUKA CITA!
YA RABB... KU SADAR NAMUN PURA-PURA LUPA
KU TAHU NAMUN PURA-PURA TAK TAHU

KAU SELALU BERTANYA
TIDAKKAH KAMU MEMPERGUNAKAN AKAL?
TIDAKKAH KAMU TERGOLONG KAUM YANG BERFIKIR ?

AKAL HANYA BERGUNA TUK MENCARI PEMBENARAN
PEMBENARAN YANG DIJADIKAN ALASAN
ALASAN TUK MENGHINDAR DARI-MU
BUKAN TUK MENCARI KEBENARAN YANG HAKIKI
HINGGA AKU BISA MENYANGKAL PERINTAH-MU
SAMBIL BERJALAN DI MUKA BUMI PENUH CONGKAK

YA ALLAH..
BUKAKAN MATA HAMBA TUK MENJEMPUT HIDAYAH-MU
TAKDIRKAN HAMBA TUK BERHIJRAH
SEBENARNYA…
 TAK SUDIKU MENJADI INSAN YANG TERJAJAH!
OLEH HASRAT SYETAN YANG MEMBUATKU MABUK

YA ALLAH…
IZINKAN HAMBA KEMBALI PADA FITRAH-MU YG HAMPIR LENYAP
HAMPIR BERGANTI LAYAKNYA HEWANI
HAMPIR TAK PEKA LAYAKNYA NABATI
GERAKKAN KUASA-MU TUK KU MEMPERBAIKI DIRI

BERI HAMBA KEMAMPUAN KENDALI
SIRAM HAMBA TUK BERSUCI
AGAR BISA MENGISI DETIK YANG TERSISA
BENAR-BENAR MENJADI INSAN YANG MULIA DAN BIJAKSANA
AAMIIIN....

Minggu, Oktober 11, 2015

Kesunyian Malam



Kesunyian Malam
Buah karya : Nurhashifah Agriani

Langkah demi langkah kulalui
Jejak demi jejak kutapaki
Tak perduli banyaknya batu dijalanan
Berlari, berjalan, bahkan merangkak aku jalani

Fajar hingga senja berhasil mengukir sejarah
Senyum simpul selalu terukir dengan manisnya
Canda tawa bersahabat dengan akrabnya
Hingga air mata lupa cara menetes

Satu yang membuatku tak berdaya
Ketika matahari menenggelamkan sinarnya
Menggelapkan dunia…
Dimana kesunyian datang membawa kontra

Aku sedih…
Ketika sadar, matahari  pergi membawa ratusan sejarah!
Sejarah yang terukir di memori
Menjelma menjadi kenangan.

Kenangan yang setiap malam selalu memaksa untuk keluar!
Keluar dikesunyian malam, dihamparan sajadah.
Hingga langit hampir menitiskan air matanya
Meratapi kebisuan, berpenghujung luka

Puisi kerinduan kerap mengajariku
Bagaimana memelukmu lewat do’a
Akankah kita kembali berjumpa ayah?
Kau menunggu kami didepan pintu syurga