Karena hidup bagai menari diatas kerikil kecil, Man jadda wa jada! ^_^

Sabtu, Agustus 23, 2014

Design Kemeja Organisasi menggunakan Corel Draw X4



Biru Dongker

 Merah Marun


Cabinet Dryer



CABINET DRYER SEBAGAI ALAT PENGERING KETELA RAMBAT (UBI JALAR) DALAM PROSES PEMBUATAN TEPUNG


PEMBAHASAN

Ubi jalar mempunyai nama botani Ipomoea batatas (L.) Lam., tergolong famili Convolvulaceae (suku kangkung-kangkungan) yang terdiri dari tidak kurang 400 galur (species). Namun dari sekian banyak galur ini, menurut Onwueme (1978) hanya ubi jalar yang mempunyai nilai ekonomis sebagai bahan pangan. Ubi jalar termasuk tanaman tropis dan dapat tumbuh dengan baik di daerah subtropis. Disamping iklim, faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ubi jalar adalah jarak tanam, varietas dan lokasi tanam. Umumnya ubi jalar dibagi dalam dua golongan, yaitu ubi jalar yang berumbi keras (karena banyak mengandung pati) dan ubi jalar yang berumbi lunak (karena banyak mengandung air). Dari warna daging umbinya, ada yang berwarna putih, merah kekuningan, kuning, merah, krem, jingga atau ungu dan lain-lain.
Pengembangan produk ubi jalar siap masak merupakan produk olah ubi jalar yang masih memerlukan satu tahap pengolahan lagi untuk disantap. Produk ubi jalar siap masak ini berbentuk instant atau quick cooking product, misalnya sarapan serealia, ekstrusi, makanan kaleng, makanan beku, produk mie. Pengolahan dalam bentuk ini dilakukan pada tingkat industri. Pengembangan produk ubi jalar setengan jadi merupakan bentuk produk olahan ubi jalar untuk bahan baku industri. Bentuk produk ubi jalar setengah jadi bersifat kering, awet, dan memiliki daya simpan lama, misalnya gaplek (irisan ubi kering), gula fruktosa, alkohol, aneka tepung, pati. Bentuk ubi jalar setengah jadi ini dapat dikembangkan menjadi berbagai macam bentuk panganan yang pengolahannya dilakukan di tingkat industri. Salah satu produk ubi jalar siap masak adalah tepung ubi jalar.
Proses pembuatan tepung ubi jalar instan meliputi pencucian ubi jalar dengan air untuk menghilangkan tanah-tanah yang melekat pada ubi jalar, kemudian ubi jalar tersebut dipanaskan dengan menggunakan air suhu 71C selama 30 menit. Selanjutnya ubi jalar direndam dalam larutan NaOH suhu 100C selama 5 menit yang bertujuan untuk mengupas kulit ubi jalar tersebut. Setelah itu ubi jalar dicuci dengan air dan dibilas sebanyak dua kali sehingga kulit ubi jalar terkelupas lalu bagian-bagian ubi jalar yang cacat dibuang dengan menggunakan pisau. Kemudian ubi jalar tersebut diblansir dengan uap panas selama 15 menit. Proses selanjutnya pengeringan ubi jalar dengan menggunakan pengering kabinet. Pada pengering dengan menggunakan pengering kabinet ubi jalar sebelumnya diblender kering tanpa menggunakan air sehingga ubi jalar berbentuk puree. Setelah itu diberi campuran Na-sulfit sebanyak 300 ppm untuk mencegah perubahan warna pada ubi jalar tersebut selama pengeringan. Selanjutnya ubi jalar dikeringkan, lalu lembaran-lembaran yang kering digiling dengan penggiling tepung kemudian diayak dan dikemas.
Proses pembuatan tepung cukup sederhana dan dapat dilakukan dalam skala rumah tangga, maupun industri kecil. Tepung dari umbi - umbian dapat dibuat dengan dua cara: yang pertama umbi - umbian diiris tipis lalu dikering kemudian ditepungkan dan yang kedua umbi diparut atau dibuat pasta lalu dikeringkan dan ditepungkan. Pengeringan adalah suatu cara untuk mengurangi kadar air suatu bahan, sehingga diperoleh hasil akhir yang kering. Pengeringan ini bertujuan untuk memperpanjang masa simpan bahan pangan. Pengeringan adalah suatu proses pindah panas dan pindah masa. Pindah panas berlangsung melalui suatu permukaan yang padat, di mana panas dipindahkan ke dalam bahan melalui plat logam alat pemanas. Selanjutnya air dalam bahan keluar dan menguap. Pada dasarnya penguapan air suatu bahan sangat bervariasi sesuai dengan aliran panas. Pengeringan akan lebih efektif pada aliran udara yang terkontrol.
Ada dua cara pengeringan yang biasa digunakan pada bahan pangan yaitu pengeringan dengan penjemuran dan pengeringan dengan alat pengering pada umumnya proses pengeringan dilakukan dengan sinar matahari. Ada dua keuntungan penjemuran di bawah sinar matahari, yaitu adanya daya pemutih karena sinar ultra violet matahari dan mengurangi degradasi kimia yang dapat menurunkan mutu bahan. Sedangkan kelemahannya dapat terkontaminasi bahan oleh debu yang dapat mengurangi derajat keputihan tepung. Dalam proses pengeringan sering timbul berbagai masalah seperti sulitnya pengontrolan suhu dan kelembaban udara, terjadinya kontaminasi mikroba, serta ketergantungan pada kondisi cuaca setempat. Pengeringan dengan alat pengering buatan akan memperoleh hasil seperti yang diharapkan asalkan kondisi pengering dapat terkontrol dengan baik. Umumnya pengeringan dengan menggunakan alat pengering berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan penjemuran dan dapat lebih mempertahankan warna bahan yang dikeringkan.
Keywords:
Tepung, cabinet drier, pengeringan, makanan olahan, design, kipas, pemanasan, pengoperasian, teknologi.
A. DESKRIPSI & PRINSIP TEKNOLOGI
Deskripsi
Sesuai namanya, mesin cabinet dryer adalah mesin pengering yang berbentuk cabinet atau almari. Hampir mirip seperti almari kayu pada umumnya yang ada dirumah kita, mesin cabinet dryer mempunyai bagian – bagian utama seperti pintu, kunci, dan rak – rak yang tersusun didalamnya. Pengering kabinet terdiri dari suatu ruangan yang terisolasi dengan baik untuk mencegah kehilangan panas. Untuk penggunaan komersial sumber panasnya bisa berasal dari tenaga listrik atau gas. Pengering kabinet umumnya digunakan untuk potongan-potongan buah dan sayuran dengan kecepatan aliran udara 500-1000 ft/menit. Pengeringan akan memakan waktu 5-10 jam atau kurang tergantung dari jenis bahan dan tingkat kadar air yang diinginkan. Pengering didesain berdasarkan dengan menggunakan 4'x8 ' selubung bahan dan memanfaatkan tersedia 5 kW pemanas listrik industri sebagai sumber panas. Pengering bisa dibuat lebih besar atau lebih kecil tergantung pada bulkiness dan volume produk yang akan dikeringkan.  Kapasitas pemanas itu juga dapat diubah untuk mencocokkan kebutuhan produk yang akan dikeringkan dan untuk pengelolaan pengering. Rencananya dryer cabinet ini akan menggunakan sentrifugal a ( kandang tupai ) untuk fan sirkulasi dengan aliran udara minimal 750 kaki kubik per menit ( cfm ) pada ½ " ( kolom air ) tekanan statis. Kipas sirkulasi harus berkualitas baik dan dirancang untuk terus berjalan. Rencana tersebut menyerukan exhaust fan dengan kapasitas sekitar 100 cfm ( bisa menjadi fan kamar mandi rumah tangga ). Pengering ini memiliki 20 nampan dari 10 sq ft masing-masing untuk total 200 sq ft area tray.  Nampan itu mempunyai  3 ½ " kedalaman. Dimensi keseluruhan pengering adalah 4' - 10 " x8'x8 '. Pengering nampan akan menampung sekitar 900 pon akar ginseng segar atau 300 pon segar tops echinacea .
Desain pengering didasarkan pada desain penelitian pengering yang digunakan untuk mengeringkan ginseng. Penelitian pengering yang digunakan pemanas dan penggemar sama tetapi lebih kecil dan dikendalikan oleh data logger dengan suhu dan sensor kelembaban. Penelitian pengering yang dioperasikan berhasil pada suhu 38 ° C ( 100 ° F ) selama beberapa ginseng pengeringan siklus. Sebelum menggunakan pengering ini, cek dengan kode bangunan listrik dan lokal mengenai kabel dan kekhawatiran api. Gunakan peralatan listrik yang memiliki atau telah disertifikasi aman untuk digunakan ( CSA ). Pastikan bahwa sirkulasi kipas berperingkat atau beroperasi di suhu udara 120 ° F atau setidaknya hangat seperti yang bisa dirasakan  untuk mengoperasikan pengering. Listrik yang dipilih pemanas dan fan kontrol cocok untuk menyediakan pengering kontrol suhu dan langkah-langkah keamanan untuk pemanas dan kipas. Batas tinggi termostat dan switch fan berlayar untuk pemanas dua menyarankan langkah-langkah keamanan. Tidak ada klaim yang dibuat mengenai kesesuaian desain ini untuk digunakan. Konstruksi dan penggunaan pengering ditunjukkan dalam rencana ini benar-benar menjadi risiko diri sendiri.

Prinsip Kerja Teknologi
Pengering ini dapat dimanfaatkan untuk pengeringan banyak berbeda tanaman. Konstruksi kayu dari pengering cabinet cocok untuk pengeringan suhu rendah menggunakan udara panas. Produk yang akan dikeringkan ditempatkan didalam lapisan tipis pada nampan ditumpuk di kolom dalam ruang pengering. Udara panas disirkulasikan secara vertikal melalui kolom dengan kipas beredar. Udara segar dibawa ke kabinet dan udara lembab habis dengan menggunakan dehumidistat untuk mengontrol kipas dan asupan udara jendela. Lantai kayu lapis berlubang digunakan untuk seragam mendistribusikan udara dalam pengering. Pengering baki ketat dalam kabinet untuk mencegah udara melewati bahan yang akan dikeringkan.  Bahan yang akan dikeringkan bisa diletakkan di atas nampan yang berlubang-lubang atau loyang sebagai laposan yang tipis. Pada pengering kabinet yang mempunyai nampan besar diletakkan di atas trolley untuk memudahkan penanganan. Untuk ukuran yang kecil dapat diletakkan di atas penopang yang permanen. Kipas yang berada dalam pengering kabinet mengalirkan udara melalui elemen-elemen pemanasan dan menyebarkannya secara merata melalui nampan-nampan yang berisi bahan yang akan dikeringkan. Alat pengering ini dilengkapi sebuah saluran untuk mengeringkan udara yang penuh dengan uap air sebelum proses resirkulasi.
Harus dipastikan bahwa kipas pengering dilumasi seperlunya dan pemanas dibersihkan secara teratur. Pengering ini dapat dioperasikan dalam batch atau kontinu. Dalam modus batch pengering sarat dengan batch penuh bahan yang akan dikeringkan. Mengatur termostat pemanas ke suhu pengeringan yang diinginkan. Pengaturan keamanan override thermostat adalah 50 derajat di atas itu tetapi di bawah 120 ° F ( 50 ° C ). Pemanas akan berjalan sampai suhu set point tercapai. Untuk menghilangkan uap air dari kabinet, harus diatur dehumidistat pada kelembaban relatif yang diinginkan. Knalpot kipas akan beroperasi sampai kelembaban relatif diturunkan ke
set -point. Sedangkan operasi kipas harus dipastikan bahwa udara luar segar diizinkan masuk ke sidang pleno udara kembali di bagian belakang pengering melalui rana asupan udara.
Pemantauan suhu dan kelembaban relatif harus dilakukan dalam aliran pasokan udara antara
pemanas dan bahan yang akan dikeringkan untuk memastikan pengering udara hangat dan kering. Jika mesin pengering ini sangat sarat dengan segar bahan lembab, pemanas dapat kelebihan beban dan dapat tidak dapat menaikkan suhu ke set–point sementara pada saat yang sama akan memanas cukup segar di luar udara untuk menurunkan kelembaban relatif dalam pengering. Dalam hal ini harus membuat kompromi antara suhu yang diinginkan dan kelembaban relatif atau mengurangi tingkat pembebanan. Mengatur suhu terlalu tinggi dapat merusak produk dan pengaturan suhu terlalu rendah memungkinkan pembusukan untuk memulai sebelum material dikeringkan. Kelembaban yang relatif terlalu tinggi akan mencegah materi
dari pengeringan di bawah kadar air yang sesuai bahan (untuk itu kelembaban relatif). Menggunakan suhu tinggi dan kelembaban relatif yang rendah cenderung berpengaruh pada  kecepatan pengeringan.
Dalam modus batch pemanas akan bekerja terus menerus pada awal batch ketika materi lembab dan sebentar-sebentar pada akhir periode bets ketika ubi jalar kering. Jika pengering dimuat secara bertahap, satu nampan (atau tingkat) pada waktu dari bawah ke atas sehingga ketika pengering penuh, baki pertama dimuat (tray bawah) kering, maka pola pembebanan kontinyu akan dibentuk. Sekali penuh, yang pertama (tray bawah) baki dikeluarkan saat kering, nampan yang tersisa diturunkan satu tingkat dan bagian atas tingkat diisi dengan nampan dari bahan segar. Pastikan bahwa ubi jalar telah kering permukaannya sehingga air dari bahan segar tidak akan menodai materi di bawah ini dalam pengering. Pengering udara akan menjadi hangat dan kering dibawah dan dingin dan basah di bagian atas mesin pengering sebagai udara mengambil uap air dari produk karena perjalanan melalui tumpukan nampan. Dengan demikian udara terkering bahan terkering. Ketika nampan diturunkan ke tingkat berikutnya, memutar nampan end-to -end untuk memastikan bahwa pengeringan adalah seragam di seluruh pengering. Praktek memutar nampan akan cenderung untuk meratakan laju pengeringan jika aliran udara tidak merata dalam pengering atau suhu udara tidak seragam. Metode pembebanan ini menghasilkan pengering counterflow. Dalam modus pembebanan terus menerus, atau counterflow, pemanas akan bekerja lebih terus-menerus sepanjang periode pengeringan. Pemanas akan mampu menangani tingkat pembebanan yang lebih tinggi dalam pengering dan suhu dan kelembaban relatif set- poin akan lebih mudah dicapai. Namun, terus-menerus counterflow pemuatan membutuhkan lebih penanganan nampan dari bets pengeringan. Batch pengeringan produk seperti akar ginseng yang memakan waktu sekitar dua minggu untuk
kering cenderung untuk berkonsentrasi tenaga kerja untuk menggali dan mencuci akar sampai beberapa hari setiap dua minggu. Pemuatan terus menerus menyebabkan beban kerja lebih banyak waktu yang mungkin menjadi keuntungan kepada pengembang. Daripada memilih baik batch pemuatan (semua baki ) atau  pengeringan kontinyu ( satu atau dua nampan pada waktu ),
Anda bisa memilih sistem pembebanan yang dimodifikasi seperti memuat setengah nampan di awal dan kemudian bagian lain dari pengering nampan ketika materi di babak batch pertama adalah setengah kering. Atau, sepertiga atau seperempat batch juga bisa digunakan dengan cara yang mirip dengan terus menerus pemuatan. Sistem pembebanan dimodifikasi mungkin lebih disukai baik batch atau sistem pembebanan kontinyu. Ketika loading pengering memastikan bahwa materi tersebar dengan kedalaman seragam dalam setiap baki. Materi dalam baki tidak boleh padat untuk memungkinkan udara beredar bebas di sekitar semua permukaan. Ketika mengeringkan bahan untuk pertama kalinya, menggunakan lapisan tipis.

B. PEMANFAATAN

Adapun pemanfaatan cabinet dryer  ini sangat bermanfaat untuk mempermudah proses kerja dalam pengeringan. Cabinet dryer berfungsi sebagai mesin pengering serbaguna sehingga kita tidak tergantung dari pengeringan menggunakan sinar matahari. Berbagai jenis bahan bisa dikeringkan menggunakan mesin cabinet dryer mulai dari bahan makanan maupun bahan non makanan. Contoh bahan atau produk yang bisa menggunakan mesin cabinet dryer seperti manisan, pelet ikan, ubi jalar, gula semut, produk herbal (kunyit, jahe, lengkuas, dan lain – lain). Menggunakan mesin cabinet dryer suhu pemanasan bisa diatur sesuai kebutuhan. Dengan adanya cabinet dryer ini diharapkan dapat memudahkan proses pengeringan baik dari segi waktu maupun dalam segi kebersihan bahan yang dikeringkan.

C. PENGEMBANGAN
            Penggunaan mesin ini bertujuan untuk mendapatkan efektifitas dalam operasi reduksi sehingga akan mendapatkan hasil yang maksimal, mesin ini terus mengalami pengembangan, hal ini bertujuan untuk mempermudah proses selanjutnya. Agar kedepanya lebih baik, maka mesin ini terus menerus dikembangkan, mulai dari bentuk sampai kegunaanya. Mesin ini pantas dikembangkan karena dengan adanya mesin ini proses pengeringan akan lebih cepat dan lebih mudah serta dengan mesin ini dapat mengeringkan bahan makanan dalam jumlah yang relatif lebih banyak.

D. PENGGOLONGAN TEKNOLOGI CABINET DRYER
Sejak 1980-an, pengeringan kabinet telah umum di binatu Eropa, terutama di Swedia Tvättstuga - ruang pengering di Swedia. Cabinet dryer termasuk kedalam teknologi modern, karena pada umumnya sudah menggunakan mesin dan sebagai tenaga penggeraknya menggunakan tenaga listrik dan gas.

E. SENI, TECHNIQUE SERTA PERBANDINGAN DENGAN PENGERING ALAMI
     DAN PENGERING YANG LEBIH MODERN
            Dalam teknologi ini kita telah mengenal seni, yaitu pada pemprosesannya hasil kerja lebih rapi dibanding dengan pengeringan manual yang menggunakan sinar matahari serta dengan mesin ini proses pengeringan lebih efisien, dapat menghemat waktu, produksi lebih cepat, seni juga terdapat pada disignnya yang ditunjukan dengan berbentuk seperti lemari, dan semakin lama semakin banyak mengalami perubahan sesuai dengan fungsi yang dibutuhkan. Dan cabinet dryer termasuk kedalam teknik karena mesin ini di design sedemikian rupa dengan teknik permesinan yang menggunakan tenaga listrik dan gas.
Jika dibandingkan dengan pengering yang lebih primitif yaitu Pengeringan alami. Pengeringan alami adalah pengeringan yang dilakukan dengan bantuan sinar matahari (penjemuran). Cara pengeringan ini cukup mudah dan biayanya murah jika dibandinkan dengan cabiet dryer. Namun, kendalanya adalah jika cuaca tidak memungkinkan maka proses pengeringan akan berlangsung tidak sempurna dan memerlukan waktu lama. Pengeringan pada musim hujan memakan waktu 7-14 hari dan pada musim kemarau antara 3-7 hari. Untuk memperoleh  hasil pengeringan yang baik, harus disediakan areal pengeringan yang cukup luas. Hal ini dikarenakan ubi jalar yang akan dikekringkan tidak boleh ditumpuk. Teknis penjemuran dilakukan pada lantai jemur, alas anyaman bambu, tikar, atau dengan cara digantung untuk tongkol yang masih ada kelobotnya. Pengeringan di lantai jemur sering menghasilkan biji retak, serta hasil pengeringan yang kurang higenis.
Kemudian jika dibandingkan dengan mesin yang lebih modern yaitu Vacuum Belt Dryer. Vacuum belt dryer adalah proses yang unik di mana bahan makanan dikeringkan sangat lembut. Selama pengeringan produk di bawah vakum dari saat pertama. Dengan cara ini suhu dijaga sangat rendah sehingga berharga dan komponen lebih sensitif, seperti misalnya vitamin dan mineral yang dipertahankan dan tetap fungsional dalam produk kering. Setelah proses pengeringan, produk dapat digiling dan disesuaikan. Vacuum belt dryer dapat dianggap sebagai salah satu metode pengeringan yang paling ekonomis dan lembut. Karena vakum, suhu penguapan air yang sangat rendah dapat dicapai. Aroma, warna produk dan bulk density dapat secara khusus dipengaruhi oleh proses.  Vacuum belt dryer ini menggunakan logam sebagai medium pengontak panas atau menggunakan efek radiasi. Pada proses ini penguapan air berlangsung lebih cepat pada tekanan rendah. Sehingga karena vacuum belt dryer sesuai dengan teknologi yang paling up-to-date dan cocok untuk pembuatan berbagai produk inilah vacuum belt merupakan alat pengering yang paling modern dan paling canggih daripada pengering – pengering lainnya.


F. PENGGUNA CABINET  DRYER

Semua orang dapat menggunakan mesin ini, namun lebih diperuntukan bagi para petani dan pabrik pengolahan industri, penggunaanya juga banyak dikalangan pedangang karena dapat meningkatkan nilai ekonomi serta memperpanjang daya simpan makanan.
Diperlukan keahlian khusus untuk menggunakan mesin ini seperti kipasnya harus dilumasi, pemanas harus dibersihkan secara teratur, lalu termostat, knalpot, operasi  dan dehumidistat harus diatur, serta suhu pemanas harus dipantau.
Posisi atau peran kita pada teknologi ini umumnya hanya penonton karena mesin ini lebih banyak digunakan pada pabrik pengolahan makanan.











DAFTAR PUSTAKA

Dalfsen Bert Van, P.Eng, December 1999, “ Ministry of agriculture and food ”. Agricultural Building System Handbook. 280-391.Pdf

Zaraida Nani. April 2003, “ Sweet Potato As An Alternative Food Supplement During Rice Storage “. Jurnal Litbang Pertanian. Volume 22 edisi 4, 2003.

E. Sumner Paul. 1984, “ Harvesting Curingn and Storage of Sweet Potato “. The University of
Georgia College of Agricultural and Environmental Sciences and the U.S. Department of Agriculture cooperating.

Journal of Agricultural Engineering and Technology (JAET). Volume 15, 2007

Mohamed A. Eltawil, Said E. AbouZaher, Wagdy Z. El-Hadad. December 2012, “ Solar-wind ventilation to enhance the cabinet dryer performance for medicinal herbs and horticultural products. Agric Eng Int: CIGR Journal Open access at http://www.cigrjournal.org Vol. 14, No.4

ALAT – ALAT PENGOLAHAN TANAH PERTAMA



TUGAS PENGANTAR TEKNOLOGI PERTANIAN
ARTIKEL  ALAT – ALAT PENGOLAHAN TANAH PERTAMA
(PRIMARY TILLAGE EQUIPMENT)






OLEH :
NURHASHIFAH AGRIANI
05021181320012


PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN
JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2014

ALAT DAN MESIN PENGOLAHAN TANAH PERTAMA
A.  Maksud dan tujuan pengolahan tanah
            Pengolahan tanah dapat dipandang sebagai suatu usaha manusia untuk merubah sifat-sifat yang dimiliki oleh tanah sesuai dengan kebutuhan yang dikehendaki oleh manusia. Di dalam usaha pertanian, pengolahan tanah dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan kondisi fisik; khemis dan biologis tanah yang lebih baik sampai kedalaman tertentu agar sesuai untuk pertumbuhan tanaman. Di samping itu pengolahan tanah bertujuan pula untuk : membunuh gulma dan tanaman yang tidak diinginkan; menempatkan seresah atau sisa-sisa tanaman pada tempat yang sesuai agar dekomposisi dapat berjalan dengan baik; menurunkan laju erosi; meratakan tanah untuk memudahkan pekerjaan di lapangan; mempersatukan pupuk dengan tanah; serta mempersiapkan tanah untuk mempermudah dalam pengaturan air.
B.  Cara pengolahan tanah pertama
            Berdasarkan atas tahapan kegiatan, hasil kerja dan dalamnya tanah yang menerima perlakuan pengolahan tanah, kegiatan pengolahan tanah dibedakan menjadi dua macam, yaitu pengolahan tanah pertama atau awal (primary tillage) dan pengolahan tanah kedua (secondary tillage).
            Dalam pengolahan tanah pertama, tanah dipotong kemudian diangkat terus dibalik agar sisa-sisa tanaman yang ada dipermukaan tanah dapat terbenam di dalam tanah. Kedalaman pemotongan dan pembalikan umumnya di atas 15 cm. Pada umumnya hasil pengolahan tanah masih berupa bongkah - bongkah tanah yang cukup besar, karena pada tahap pengolahan tanah ini penggemburan tanah belum dapat dilakukan dengan efektif.

C.  Macam-macam alat dan mesin pengolah tanah pertama

            Alat dan mesin pengolahan tanah pertama (primary tillage equipment),
yang digunakan untuk melakukan kegiatan pengolahan tanah pertama. Peralatan pengolahan tanah ini biasanya berupa bajak (plow), dengan segala jenisnya.
Peralatan                                             1. Bajak singkal
pengolahan tanah        à                    2. Bajak piringan
pertama                                               3. Bajak putar
                                                            4. Bajak pahat
                                                            5. Bajak tanah bawah

Bajak (plow)

            Bajak merupakan alat pertanian yang paling tua, telah dipergunakan sejak 6000th SM di Egypt. Pada awal mulanya bajak sepenuhnya ditarik oleh tenaga manusia, dengan bntuk yang sangat sederhana. Kemudian Thomas Jefferson merancang secara istimewa dengan prinsip perhitungan matematika. Untuk pertama kalinya alat pengolahan tanah ini dibuat dari kayu kemudian dari besi tuang sebagai bahan utamanya, selanjutnya dibuat dari baja. Penggunaan sistem dua mata bajak (bottom) dimulau sejak tahun 1865, kemudian diikuti dengan pemakaian tiga mata bajak dan seterusnya, tergantung pada besarnya daya penarik yang digunakan. Banyak dijumpai berbagai bentuk rancangan bajak, hal ini pada umumnya dimaksudkan untuk dapat memperoleh penyesuaian antara tujuan pengolahan tanah dan peralatan yang dipergunakan. Berdasarkan bentuk dan kegunaannya, secara garis besar bajak dibedakan atas beberapa jenis, yaitu:

1. Bajak singkal (mold board plow)
2. Bajak piringan (disk plow)
3. Bajak rotari atau bajak putar (rotary plow)
4. Bajak pahat (chisel plow)
5. Bajak tanah bawah (sub soil plow)


1. Bajak singkal (mold board plow)

            Bajak singkal (moldboard plow) terdiri dari berbagai komponen yang saling berkaitan. Setiap bagiannya memiliki fungsi yang berbeda-beda. Sangat penting untuk mengetahui fungsi dari tiap komponen bajak singkal agar dapat melakukan perbaikan, modifikasi, pembuatan alat, dan pengoperasian bajak singkal tersebut. Bajak singkal termasuk jenis bajak yang paling tua. Di Indonesia jenis bajak singkal inilah yang paling umum digunakan oleh petani untuk melakukan pengolahan tanah mereka, dengan menggunakan tenaga ternak hela sapi atau kerbau, sebagai sumber daya penariknya. Sering dijumpai beberapa bentuk rancangan bajak singkal, hal ini dimaksudkan untuk dapat memperoleh penyesuaian antara kondisi tanah dengan tujuan pembajakan. Aneka ragam rancangan yang dijumpai selain pada bentuk mata bajak, juga di bagian perlengkapannya. Mata bajak adalah bagian dari bajak yang berfungsi aktif untuk mengolah tanah. Bajak singkal secara umum dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu:
·         Bajak singkal satu arah (one way moldboard plow), adalah jenis bajak singkal  dimana pada waktu mengerjakan pengolahan tanah akan melempar dan membalik tanah hanya dalam satu arah. Lemparan atau pembalikan tanahnya biasanya dilakukan ke arah kanan
·         Bajak singkal dua arah ( two way / reversible moldboard plow), adalah jenis bajak singkal dimana pada waktu mengerjakan pengolahan tanah, arah pelemparan atau pembalikan tanahnya dapat diatur dua arah yaitu ke kiri maupun ke arah kanan. Jenis bajak ini mempunyai mata bajak yang kedudukannya dirancang untuk dapat diputar ke kanan ataupun ke kiri dengan cepat, sesuai dengan arah pelemparan ataupun pembalikan tanah yang dikehendaki.
            Penggunaan bajak singkal dua arah mempunyai beberapa kelebihan akan menghasilkan pembalikan tanah yang seragam untuk seluruh petak tanah yang diolah, praktis untuk pengolahan tanah sistem kontur dari hasil kerjanya tidak akan berbentuk alur mati (dead-furrow) ataupun alur punggung (back-furrow), sehingga pembajakan dapat teratur dan rata. Namun kelemahannya adalah konstruksinya lebih berat dan lebih rumit, untuk ukuran bajak yang besar perlu dilengkapi sistem hidrolis untuk pemutaran mata bajaknya.

Bagian-bagian bajak singkal
Bagian bajak singkal yang aktif untuk mengolah tanah terdiri atas:
1. Pisau bajak (share) berfungsi untuk memotong tanah secara horizontal.
    Oleh karenanya biasaya bajak ini terbuat dari logam yang berbentuk tajam.
2. Singkal (moldboard) berfungsi untuk mengangkat, menghancurkan dan
    membalik tanah yang telah dipotong oleh pisau bajak. Karena bentuknya
    yang melengkung, pada waktu bajak bergerak maju, tanah yang telah
    terpotong akan terangkat ke atas kemudian akan dibalik dan dilempar
    sesuai dengan arah pembalikan bajak.
3. Penstabil bajak (land side), berfungsi untuk mempertahankan gerakan
    maju bajak agar tetap lurus. Dengan jalan menahan atau mengimbangi
    gaya ke samping yang diterima oleh bajak singkal, pada waktu bajak
    tersebut digunakan untuk memotong dan membalik tanah.Bagian penstabil
    bajak ini akan selalu bergerak sejajar dan menempel pada dinding alur
    pembajakan.
            Untuk penyempurnaan hasil kerjanya, disamping bagian-bagian utama
di atas, bajak singkal sering dilengkapi dengan perlengkapan tambahan,
antara lain adalah:
1.  Roda alur penstabil (furrow wheel), berfungsi sebagai pembantu alas penstabil bajak dalam menjaga kestabilan pembajakan.
2.  Roda dukung (land wheel), berfungsi untuk mengatur kedalaman pembajakan.   Dengan alat ini diharapkan pengolahan tanah dapat dilakukan dengan kedalaman yang relatif konstan.
3. Kolter, berfungsi untuk memotong seresah dan memotong tanah ke arah
     vertikal. Dengan alat ini diharapkan kerja pembalikan tanah akan lebih ringan. Kolter biasanya dipasang di depan bajak dan terletak sedikit di atas mata bajak.
4. Jointer, berfungsi untuk memungkinkan penutupan seresah lebih sempurna dalam pembajakan. Alat ini bentuknya menyerupai bajak singkal namun dengan ukuran yang lebih kecil. Dalam pemasangan umumnya berada di atas pisau bajak, ke arah tanah yang belum dibajak dengan kedalaman kerja lebih kurang 5 cm. Dengan alat ini rumput-rumput atau seresah sebelum dibalik, struktur akar sudah dirusak atau dipotong, sehingga pada waktu tertimbun tanah tidak ada kemungkinan untuk menembus tanah dan tumbuh kembali.
5. Kerangka (beam), seluruh bagian-bagian bajak di atas pada penggunaannya dipasang pada kerangka yang kuat. Pada kerangka ini pula terpasang titik penggandengan bajak. Pada titik-titik penggandengan ini bajak dapat dirangkaikan dengan sumberdaya penariknya.
2. Bajak piringan (disk plow)
            Adanya kelemahan-kelemahan bajak singkal maka orang menciptakan bajak piringan. Bajak piringan fungsinya sama dengan bajak singkal, yaitu untuk pengolahan tanah pertama tetapi singkalnya diganti dengan piringan. Piringan bulat seperti parabola dan berfungsi untuk memotong dan membalik tanah. Bajak piringan cocok untuk bekerja pada : tanah yang lengket, tidak mengikis dan kering dimana bajak singkal tidak dapat masuk; tanah berbatu, atau banyak sisa-sisa akar; tanah gambut; serta untuk pembajakan tanah yang berat. Namun penggunaan bajak piringan ini untuk pengolahan tanah ada juga kelemahannya antara lain: tidak dapat menutup seresah dengan baik; bekas pembajakan tidak dapat betul-betul rata; hasil pengolahan tanahnya masih berbongkah-bongkah, tetapi untuk lahan yang erosinya besar hal ini justru dianggap menguntungkan.

Jenis bajak piringan

            Berdasarkan tempat kedudukan dan susunan piringannya bajak piringan secara garis besar dibedakan menjadi dua, yaitu:
Bajak piringan standard
            Pada jenis bajak ini masing-masing piringan mempunyai poros tersendiri terpisah antara piringan satu dengan piringan yang lain. Bajak piringan vertical Untuk jenis bajak piringan ini masing-masing piringan dirangkai dalam satu poros. Namun disamping cara penggolongan di atas, seperti pada bajak singkal,berdasarkan atas arah pembalikan pengolahan tanahnya, bajak piringan juga dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu:
1.      Bajak piringan satu arah (one way disk plow)
2.      Bajak piringan dua arah (two way / reversible disk plow)

Selanjutnya berdasarkan bentuk piringannya, piringan dari bajak piringan dibedakan menjadi dua, yaitu:
1.      Piringan standard, yaitu yang tepinya rata (standard disk), biasa digunakan untuk mengolah tanah yang sudah lama diusahakan untuk tanaman semusim, sehingga tidak dijumpai sisa-sisa tanaman atau perakaran yang cukup besar.
2.      Piringan yang tepinya tidak rata atau berlekuk (cutaway disk), biasa digunakan untuk tanah yang baru diusahakan atau biasa ditanami dengan tanaman keras. Jenis piringan ini sesuai untuk mengolah tanah yang banyak sisa tanamannya dan sesuai untuk memecah tanah yang berbongkahbongkah.

Bagian-bagian bajak piringan

1.      Piringan (disk), berfungsi untuk meotong, mengangkat, menghancurkan dan membalik tanah yang dibajak. Piringan berbentuk cekung dengan tepi yang tajam. Bagian tepi yang tajam akan berfungsi sebagai alat pemotong tanah, sedang bagian piringan yang cekung akan berfungsi untuk mengangkat, menghancurkan dan membalik tanah.
2.      Poros atau pusat piringan, berfungsi sebagai tempat bertumpu dan berputarnya piringan, sehingga memungkinkan piringan dapat berputar dengan baik pada waktu digunakan untuk melakukan pengolahan tanah.
3.      Penggarak piringan (scraper), berfungsi untuk menjaga piringan tetap bersih, bebas dari gumpalan tanah. Tanah yang menggumpal pada piringan akan menyebabkan kemacetan dan ketidaknormalan kerja dari bajak piringan. Di samping itu, penggarak piringan ini juga berfungsi untuk membantu pembalikan dan penghancuran tanah pada waktu jenis bajak ini digunakan untuk membajak tanah.
4.      Roda alur penstabil (furrow wheel)
5.      Roda dukung (land wheel)
6.      Kerangka (beam)
            Dimana fungsi roda alur penstabil, roda dukung, dan kerangka sama fungsinya seperti pada bajak singkal. Hasil kerja dan besarnya kebutuhan daya dalam penggunaan bajak piringan ini akan sangat dipengaruhi oleh: bentuk, ukuran dan jenis piringan; cara pemasangan piringan yang akan berpengaruh terhadap besarnya sudut penarikan atau sudut piringan (disk angle) dan sudut kemiringan piringan (tilt angle); cara penyetelan bajak dan sistem penggandengan; jenis dan kondisi tanah dan faktor lainnya.

3. Bajak putar (rotary plow)
            Pengolahan tanah dengan bajak akan menghasilkan bongkahan-bongkahan yang besar, sehingga biasanya masih diperlukan tambahan pengerjaan untuk memperoleh keadaan tanah yang lebih halus lagi. Dengan menggunakan bajak putar pengerjaannya hanya dilakukan sekali tempuh. Bajak putar ini dapat digunakan pada tanah yang kering maupun tanah sawah, kadang-kadang juga digunakan untuk mengerjakan tanah kedua dan juga dapat digunakan untuk melakukan penyiangan atau pendangiran. Penggunaan bajak rotari untuk pengolahan tanah dapat memberikan hasil yang lebih baik (baik untuk tanah kering maupun tanah basah).Untuk mengatasi lengketnya tanah pada pisau maka dapat dilakukan dengan mengurangi jumlah pisau dan mempercepat putaran pada rotor dan memperlambat gerakan maju. Makin cepat perputaran rotor akan lebih banyak daya yang digunakan, namun akan diperoleh hasil penggemburan yang lebih halus.

 

 

 

 

Bagian-bagian bajak putar

 

1.      Pisau, berfungsi untuk mencacah tanah pada waktu pengolahan tanah dengan bajak putar dilakukan. Pisau ini juga cukup baik untuk mencacah gulma maupun seresah, namun tidak dapat menutupnya dengan tanah secara baik seperti bila menggunakan bajak singkal maupun bajak piringan. Besar dan jumlah pisau disesuaikan dengan daya penggerak dan keperluannya. Cara pemasangan pisau dalam hubungannya dengan bentuk permukaan dan hasil pengolahan tanah dapat dilihat pada gambar.
2.      Poros putar, berfungsi untuk memutar rotor-rotor bajak putar.
3.      Rotor, berfungsi sebagai tempat pemasangan pisau-pisau dari bajak putar.
4.      Penutup belakang (rear shield), berfungsi membantu penghancuran tanah.
5.      Roda dukung (land wheel), berfungsi untuk mengatur kedalaman pengolahan tanah.

  • Sistem pemasangan pisau, Pemasangan pisau dengan jumlah yang lebih sedikit akan memperoleh sedikit hambatan karena adanya seresah pada tanah dan pisau dapat masuk lebih dalam pada tanah sehingga seresah dapat bercampur dengan tanah. Juga dapat mengurangi kemungkinan macetnya alat pada waktu kerja di tanah yang basah dan lengket. Namun hasil pengolahan diperoleh bongkah yang lebih besar.
  • Tipe tanah, Pada tanah berat kandungan lempung lebih banyak, sehingga kohesi partikel tanah cukup besar hingga kemungkinan hasil pengerjaan tanah dapat bervariasi dari halus sampai kasar.
  • Kecepatan perputaran pisau, Pada kecepatan maju tetap, makin cepat perputaran pisau akan diperoleh pemotongan yang semakin halus; makin lambat perputaran pisau maka hasil pemotongan akan besar-besar. Pada kecepatan rendah, kemungkinan penyumbatan oleh tanah dan seresah makin besar tetapi kecepatannyya yang besar akan dapat merusak struktur tanah dan mengurangi umr pemakaian pisau.
  • Posisi penutup (rear shield), Adanya penutup akan memungkinkan tanah lebih hancur karena tanah yang terlempar dari pisau terbentur pada penutup. Posisi dari penutup akan mempengaruhi benturan tanah terhadap pentup. Posisi yang memungkinkan adanya benturan yang lebih keras akan menghasilkan penghancuran tanah yang lebih besar.
  • Kandungan air tanah, Bila tanah dikerjakan pada kandungan air dimana ikatan partikel kecil maka hasil pengerjaan tanah akan lebih halus.

4. Bajak pahat (chisel plow)

            Dalam pengerjaan tanah, bajak pahat dipergunakan untuk merobek dan menembus tanah dengan menggunakan alat yang menyerupai pahat atau ujung skop sempit yang disebut mata pahat atau chisel point. Mata pahat ini terletak pada ujung dari tangkai atau batang yang biasa disebut bar. Bar ini secara garis besar dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu:
·         Kaku, adalah konstruksi yang berat Jenis batang ini terbuat dari baja dengan kadar karbon tinggi. Batang ini mungkin berbentuk lurus mungkin juga berbentuk lengkung.
·         Lentur (flexible) Ukurannya biasanya lebih panjang dan lebih ramping. Terbuat dari baja yang dicampur dengan nikel. Bekerja seperti aksi dari per. Batang (bar) ini dipasang pada kerangka yang mana jarak bar yang satu dengan yang lain masing-masing 30 cm, dapat juga antara (30 – 60) cm untuk ukuran bajak pahat yang besar. Bajak pahat ini dapat dipergunakan untuk pembajakan dangkal maupun dipergunakan untuk pembajakan dalam sampai kedalaman 45 cm, tergantung pada keperluan dan jenis mata pahatnya. Berdasarkan jenisnya pula, lebar kerja alat sangat bervariasi tergantung dari sumber daya penarik dan keperluannya.

            Fungsi dari bajak pahat tidak sama dengan fungsi bajak singkal maupun bajak piringan. Fungsi bajak pahat adalah:
1. Untuk memecah tanah yang keras dan kering, ini biasa dilakukan sebelum 
    pembajakan untuk tanah tertentu.
2. Dipergunakan untuk pengerjaan praktis pada tanah bawah
3. Dipergunakan pada tanah yang berjerami, dan dipergunakan untuk memotong  
    sisa-sisa perakaran yang berada dalam tanah.
4. Dipergunakan untuk memecah lapisan keras (hardpan) atau plow sole.
5. Untuk memperbaiki infiltrasi air pada tanah, sehingga dapat mengurangi erosi.

5. Bajak tanah bawah (sub soil plow)

            Bajak tanah bawah termasuk di dalam jenis bajak pahat tetapi dengan konstruksi yang lebih berat. Fungsi bajak ini tidak banyak berbeda dengan bajak pahat, namun dipergunakan untuk pengerjaan tanah dengan kedalaman yang lebih dalam, yaitu mencapai kedalaman sekitar (50 – 90) cm. Untuk jenis standart tunggal biasanya dipergunakan untuk mengerjakan tanah dengan kedalaman sampai 90 cm, sedang penarikannya menggunakan traktor dengan daya (60 – 85) HP. Kemudian untuk bajak tanah bawah jenis standart dua atau lebih, biasanya dipergunakan untuk pekerjaan yang lebih dangkal.
            Kadangkala pada bajak tanah bawah ini di bagian belakangnya dilengkapi
dengan alat lain diantaranya:
·         Perlengkapan mole (mole attachment) Alat ini digandengkan di belakang bajak tanah bawah. Alat ini berbentuk oval berdiameter (7,5 – 20) cm. Hasilnya akan meninggalkan bekas seperti terowongan. Terowongan ini dimaksudkan untuk perbaikan drainase, kalau keadaan ideal akan tahan sampai 7 tahun.
·         Perlengkapan pemupukan (fertilizer attachment) Penggandengan alat ini pada bajak tanah bawah dimaksudkan untuk sekaligus mengadakan pemupukan dengan kedalaman tertentu. Dalam kenyataannya, cara pemupukan dengan sistem ini mendapatkan hasil yang menggembirakan. Jarak alur biasanya 120 cm, tapi jarak ini dapat divariasikan menurut keadaan dan keperluannya.
·

D.  Mengolah Tanah Pertama

            Setelah lahan siap untuk diolah dan ditentukan pola pengolahan yang tepat, maka lahan dapat mulai diolah. Cara pembajakan adalah sebagai berikut :

1.  Buat batas-batas lahan yang akan diolah dan tempat head land apabila diperlukan.
2.  Traktor dibawa ke lahan dan diletakkan sesuai pola yang diinginkan.
3.  Atur gas dan posisi gigi yang direkomendasikan oleh pabrik. Untuk itu, sangat  
     disarankan agar operator membaca buku petunjuk pengoperasian (manual).
4. Pembajakan dimulai. Kedalaman pembajakan untuk alur pertama (pada saat kedua
    roda traktor belum masuk ke alur), tidak perlu terlalu dalam
5. Khusus untuk mesin rotari, kedalaman pengolahan dapat diatur dengan memutar   
    tangkai pengendali roda belakang. Untuk bajak singkal ada juga yang dilengkapi
    dengan tuas pengatur posisi singkal yang berpengaruh terhadap kedalaman
    pengolahan tanah.
6. Pada saat berbelok, implemen diangkat.
7. Pembajakan berikutnya dilakukan dengan cara memasukkan salah satu roda
   dimasukkan ke alur. Kedalaman pembajakan otomatis menjadi lebih dalam.
8. Dua sampai empat alur terakhir (tergantung dari panjang traktor dan lebar kerja
    alat bajak), head land mulai dibajak.