Karena hidup bagai menari diatas kerikil kecil, Man jadda wa jada! ^_^

Jumat, Februari 12, 2016

MAKALAH PRAKTIKUM DASAR-DASAR ILMU TANAH PUPUK

I. PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Dalam kehidupan sehari-hari kita pasti membutuhkan makan. Makanan yang kita dapatkan salah satunya bersumber dari tanaman. Tanaman sangatlah penting bagi kelangsungan hidup kita, banyak sumber vitamin yang kita butuhkan untuk tubuh kita di dapat dalam tanaman, oleh karena itu kita sangat perlu mengupayakan agar tanaman yang kita peroleh membuahkan hasil yang terbaik.
            Salah satu upaya yang dapat kita lakukan pada tanaman yaitu dengan memberikan pupuk pada tanaman tersebut. Upaya pemberian pupuk ini dapat memaksimalkan produtiktifitas tanaman atau hasil dari tanaman itu sendiri.
            Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non-organik (mineral). Pupuk adalah salah satu komponen faktor produksi suatu usaha tani. Pupuk diberikan ke lahan sebagai sumber hara tanaman untuk memenuhi kebutuhan tanaman yang tidak mampu dicukupi oleh hara yang secara alamiah terdapat dalam tanah. Sebagian besar pupuk yang diberikan ke dalam tanah hilang dari sistem pencucian, aliran permukaan, denitrifikasi dan penguapan serta sebagai bahan yang mengotori tanah, air, udara dan sumber-sumber alam penting lainnya.  Pupuk berbeda dari suplemen. Pupuk mengandung bahan baku yang diperlukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sementara suplemen seperti hormon tumbuhan membantu kelancaran proses metabolisme. Meskipun demikian, ke dalam pupuk, khususnya pupuk buatan, dapat ditambahkan sejumlah material suplemen. Dalam pemberian pupuk perlu diperhatikan kebutuhan tumbuhan tersebut, agar tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat makanan. Terlalu sedikit atau terlalu banyak zat makanan dapat berbahaya bagi tumbuhan. Pupuk dapat diberikan lewat tanah ataupun disemprotkan ke daun.
            Berdasarkan bentuk fisiknya, pupuk dibedakan menjadi pupuk padat dan pupuk cair. Pupuk padat diperdagangkan dalam bentuk onggokan, remahan, butiran, atau kristal. Pupuk cair diperdagangkan dalam bentuk konsentrat atau cairan. Pupuk padatan biasanya diaplikan ke tanah/media tanam, sementara pupuk cair diberikan secara disemprot ke tubuh tanaman. Dilihat dari sumber pembuatannya, terdapat dua kelompok besar pupuk: (1) pupuk organik atau pupuk alami (misal pupuk kandang dan kompos) dan (2) pupuk kimia atau pupuk buatan. Pupuk organik mencakup semua pupuk yang dibuat dari sisa-sisa metabolisme atau organ hewan dan tumbuhan, sedangkan pupuk kimia dibuat melalui proses pengolahan oleh manusia dari bahan-bahan mineral. Pupuk kimia biasanya lebih "murni" daripada pupuk organik, dengan kandungan bahan yang dapat dikalkulasi. Pupuk organik sukar ditentukan isinya, tergantung dari sumbernya; keunggulannya adalah ia dapat memperbaiki kondisi fisik tanah karena membantu pengikatan air secara efektif. Terdapat dua kelompok pupuk berdasarkan kandungan: pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pupuk tunggal mengandung hanya satu unsur, sedangkan pupuk majemuk paling tidak mengandung dua unsur yang diperlukan. Terdapat pula pengelompokan yang disebut pupuk mikro, karena mengandung hara mikro (micronutrients). Beberapa merk pupuk majemuk modern sekarang juga diberi campuran zat pengatur tumbuh atau zat lainnya untuk meningkatkan efektivitas penyerapan hara yang diberikan.
            Pupuk organik mencakup semua bahan yang dihasilkan dari makhluk hidup dan bisa digunakan untuk menyuburkan tanaman, sepertikotoran hewan, kotoran cacing, kompos, rumput laut, guano, dan bubuk tulang. Kotoran hewan merupakan limbah yang seringkali menjadimasalah lingkungan, sehingga penggunaan kotoran hewan sebagai pupuk dapat menguntungkan secara lingkungan dan pertanian. Tulang hewan sisa penyembelihan hewan bisa dijadikan bubuk tulang yang kaya kandungan fosfat. Pupuk organik diketahui mampu meningkatkan keanekaragaman hayati pertanian dan produktivitas tanah secara jangka panjang. Pupuk organik juga dapat menjadi sarana sekuestrasi karbon ke tanah. Nutrisi organik meningkatkan keanekaragaman hayati tanah dengan menyediakan bahan organik dan nutrisi mikro bagi organisme penghuni tanah seperti jamur mikoriza yang membantu tanaman menyerap nutrisi, dan dapat mengurangi input pupuk. Pupuk organik merupakan pupuk yang bersifat kompleks karena ketersediaan senyawa yang ada pada pupuk tidak berupa unsur ataupun molekul sederhana yang dapat diserap oleh tanah secara langsung. Kadar nutrisi yang tersedia sangat bervariasi dan tidak dalam bentuk yang tersedia secara angsung bagi tanaman sehingga membutuhkan waktu lama untuk diserap oleh tanaman. Beberapa limbah yang dikomposkan, jika tidak diolah secara tepat, dapat menjadi sarana pertumbuhan patogen yang merugikan tanaman. Kadar nutrisi, tingkat kelarutan, dan laju pelepasan nutrisi pupuk organik umumnya lebih rendah dibandingkan pupuk anorganik. Secara umum, keberadaan nutrisi pada pupuk organik lebih terlarut ke antara molekul tanah, namun juga tidak lebih tersedia dalam wujud yang bisa dimanfaatkan secara langsung oleh tanaman. Berdasarkan studi dari Universitas California, semua pupuk organik diklasifikasikan sebagai pupuk dengan laju pelepasan yang lambat (slow release fertliizer) sehingga tidak menyebabkan memar (burn) pada tanaman meski kadar nitrogen pada pupuk organik berlebih. Gejala burn merupakan gejala umum yang ditemukan pada tanaman ketika pemberian pupuk kimia dilakukan secara berlebihan.
Kualitas pupuk organik dari kompos dan sumber lainnya dapat bervariasi dari satu proses produksi ke proses produksi berikutnya. Tanpa pengujian secara sampling terlebih dahulu, tingkat nutrisi yang akan diterima tanaman tidak bisa diketahui secara pasti.
            Sumber pupuk organik : Kotoran hewan yang terdekomposisi merupakan sumber pupuk organic Urea dari kotoran hewan (dan juga manusia) dapat digunakan untuk menjadi sumber pupuk organic. Sebuah firma di Belanda telah mampu mengubah urin manusia menjadi struvite yang dapat digunakan sebagai pupuk.
Namun limbah perkotaan yang kemungkinan telah tercampur obat-obatan, polusihormon buatan, logam beratplastik, dan sebagainya tidak dapat digunakan sebagai bahan baku pupuk untuk digunakan pada usaha pertanian organik.
            Penelitian yang dilakukan oleh Agricultural Research Service (ARS) mennjukan bahwa kotoran ayam dapat menjadikan kondisi tanah lebih baik bagi pertumbuhan tanaman dibandingkan dengan penggunaan pupuk anorganik. ARS melakukan studi tersebut kepada perkebunankapas dan menemukan bahwa kapas menghasilkan 12% lebih banyak dibandingkan dengan penggunaan pupuk anorganik. ARS juga memperkirakan harga kotoran ayam saat ini hanya $17 per ton, jauh lebih murah dibandingkan dengan jumlah manfaat yang dapat disediakan pupuk anorganik pada kemampuan pengkondisian tanah yang setara yang sebesar $78 per ton. Tepung tulangtepung darahtepung ikan, dan emulsi ikan juga dapat digunakan sebagai pupuk. Tumbuhan: Tanaman penutup legum (misal alfalfa) seringkali ditumbuhkan di sela-sela tanaman perkebunan untuk memperkaya tanah dengan nitrogen melalui proses pengikatan nitrogendari atmosfer dan memperkaya kandungan fosfor melalui mobilisasi nutrisi. Salah satu studi yang dilakukan ARS menemukan bahwa alga dapat digunakan untuk menangkap nitrogen dan fosfor yang dilepaskan lahan usaha tani ke lingkungan melaluialiran air permukaan (surface runoff). Alga ini dapat digunakan untuk menyaring limbah pertanian, yang lalu dapat dikembalikan lagi ke tanah sebagai pupuk. Laju pelepasan nutrisinya setara dengan pupuk anorganik sehingga dapat digunakan pada pembibitan.Limbah industri kayu seperti serbuk gergaji dan kepingan kayu, juga dapat digunakan sebagai pupuk.         Pupuk anorganik, secara umum, tumbuhan hanya menyerap nutrisi yang diperlukan jika terdapat dalam bentuk senyawa kimia yang mudah terlarut. Nutrisi dari pupuk organik hanya dilepaskan ke tanah melalui pelapukan yang dapat memakan waktu lama. Pupuk anorganik memberikan nutrisi yang langsung terlarut ke tanah dan siap diserap tumbuhan tanpa memerlukan proses pelapukan.Tiga senyawa utama dalam pupuk anorganik yaitu nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K). Kandungan NPK dihitung dengan pemeringkatan NPK yang memberikan label keterangan jumlah nutrisi pada suatu produk pupuk anorganik. Secara umum, nutrisi NPK yang siap diserap oleh tanaman pada pupuk anorganik mencapai 64%, jauh lebih tinggi dibandingkan pupuk organik yang hanya menyediakan di bawah 1% dari berat pupuk yang diberikan.[27] Inilah yang menyebabkan mengapa pupuk organik harus diberikan dalam jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan pupuk organik. Pupuk nitrogen dibuat dengan menggunakan proses Haber yang ditemukan pada tahun 1915. Proses ini menggunakan gas alam sebagai sumber hidrogen, dan gas nitrogen dari udara pada temperatur dan tekanan yang tinggi dengan bantuan katalis menghasilkan amonia sebagai produknya. AMonia dapat digunakan sebagai bahan baku pupuk lainnya seperti amonium nitrat dan urea. Pupuk ini dapat dilarutkan terlebih dahulu dengan air. Sebelum ditemukannya proses Haber, mineral seperti natrium nitrat ditambang untuk dijadikan sumber pupuk nitrogen anorganik. Mineral ini masih ditambang sampai sekarang. Proses lainnya dalam pembuatan pupuk organik adalah proses Odda yang disebut juga dengan proses nitrofosfatBebatuan fosfat dengan kadar fosfor hingga 20% dilarutkan keasam nitrat untuk menghasilkan asam fosfat dan kalsium nitrat. Bebatuan fosfat juga bisa diproses menjadi mineral P2O5 dengan bantuan asam sulfat. Melalui tungku listrik, mineral fosfat juga bisa direduksi menjadi fosfat murni, namun proses ini sangat mahal. Kalium secara komersial dapat ditemukan di berbagai tempat mulai dari bebatuan di dalam bumi hingga sedimen di dasar laut. Bebatuan yang mengandung kalium seringkali berada dalam bentuk kalium klorida yang juga ditemukan bersamaan dengan mineral natrium klorida. Bebatuan yang mengandung kalium ditambang dengan bantuan air panas sehingga larut. Larutan ini diuapkan dengan bantuan sinar matahari. Senyawa amina digunakan untuk memisahkan KCl dengan NaCl. Penggunaan pupuk organik secara komersial telah berkembang dan meningkat hingga 20 kali lipat dibandingkan 50 tahun yang lalu dengan jumlah konsumsi saat ini mencapai 100 juta ton nitrogen anorganik per tahun. Tanpa pupuk anorganik, diperkirakan sepertiga bahan pangan saat ini tidak dapat berproduksi. Penggunaan pupuk fosfat juga meningkat dari 9 juta ton (1960) menjadi 40 juta ton (2000). Setiap hektar tanaman jagung membutuhkan antara 30 hingga 50 kilogram pupuk fosfat, sedangkan kedelai membutuhkan 20-25 kg. Penerapan Pupuk anorganik digunakan di semua jenis tanaman pertanian dengan jumlah pemberian bergantung pada jenis tanaman dan tingkat kesuburan tanah saat ini. Misal tanaman pertanian jenis legum (seperti kedelai) tidak membutuhkan pupuk nitrogen anorganik sebanyak tanaman lain karena mampu mengikat nitrogen. Namun penerapan pupuk anorganik berlebih mampu menyebabkan peningkatan keasaman tanah karena mineral yang tidak dimanfaatkan mampu bereaksi dengan air yang ada di tanah membentuk senyawa asam. Untuk mencegah hal ini, status nutrisi dari tanaman dan tanah perlu dinilai sebelum penerapan pupuk anorganik.

B.     Tujuan
            Adapun tujuan pembuatan makalah ini yaitu agar mahasiswa tau apa definisi pupuk, klasifiksi pupuk, kegunaan pupuk, kelebihan dan kekurangan pupuk dan bagaimana cara pengaplikasian pupuk pada tanaman.

II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Pupuk
Pupuk adalah bahan pengubah sifat biologi tanah supaya menjadi lebih baik. Pupuk selain berfungsi menggemburkan tanah juga untuk membantu pertumbuhan tanaman ( Ahira,2004 ).
Pupuk adalah bahan bahan yang memberikan zat makanan kepada tanaman. Zat makanan ( hara ) tersebut berupa unsur kimia yang digunakan oleh tanaman untuk pertumbuhan dan mempertahankan pertumbuhannya ( Sudarmoto, AS, 1997 )
Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik ( Andi,2012 ).
Pemupukan adalah tindakan memberikan tambahan unsur-unsur hara pada komplek tanah, baik langsung maupun tidak langsung dapat menyumbangkan bahan makanan pada tanaman ( Bagus,2012).
Pemupukan adalah suatu cara pemberian unsur hara atau pupuk kepada tanah dengan tujuan agar dapat diserap oleh tanaman ( unsur hara adalah makanannya tanaman ( Andi, 2012)

B. Pupuk Organik
Pupuk organik adalah semua sisa bahan tanaman, pupuk hijau, dan kotoran hewan yang mempunyai kandungan unsure hara rendah. Pupuk organic tersedia setelah zat tersebut mengalami proses pembusukan oleh mikro organisme.
Macam-macam pupuk organik adalah sebagi berikut:
  1. Kompos
Pupuk kompos adalah pupuk yang dibuat dengan cara membusukkan sisa-sisa tanaman. Pupuk jenis ini berfungsi sebagai pemberi unsure-unsur hara yang berguna untuk perbaikan struktur tanah.
  1. Pupuk Hijau
Pupuk hijau adalah bagian tumbuhan hijau yang mati dan tertimbun dalam tanah. Pupuk organic jenis ini mempunyai perimbangan C/N rendah, sehingga dapat terurai dan cepat tersedia bagi tanaman. Pupuk hijau sebagai sumber nitrogen cukup baik di daerah tropis, yaitu sebagai pupuk organic sebagi penambah unsure mikro dan perbaikan struktur tanah.
  1. Pupuk kandang
Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan. Kandungan hara dalam puouk kandang rata-rata sekitar 55% N, 25% P2O5, dan 5% K2O (tergantung dari jenis hewan dan bahan makanannya). Makin lama pupuk kandang mengalamai proses pembusukan, makin rendah perimbangan C/N-nya ( Rahmat, 2012 ).

C.    Pupuk Anorganik
Pupuk anorganik adalah pupuk yang dibuat oleh pabrik-pabrik pupuk dengan meramu bahan-bahan kimia anorganik berkadar hara tinggi.  Misalnya urea berkadar N 45-46% (setiap 100 kg urea terdapat 45-46 kg hara nitrogen) (Marsono, 2000).
Pupuk anorganik atau pupuk buatan dapat dibedakan menjadi pupuk tunggal dan pupuk majemuk.  Pupuk tunggal adalah pupuk yang hanya mengandung satu unsur hara misalnya pupuk N, pupuk P, pupuk K dan sebagainya.  Pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur hara misalnya N + P, P + K, N + K, N + P + K dan sebagainya (Hardjowigeno, 2004).
Ada beberapa keuntungan dari pupuk anorganik, yaitu (1) Pemberiannya dapat terukur dengan tepat, (2) Kebutuhan tanaman akan hara dpat dipenuhi dengan perbandingan yang tepat, (3) Pupuk anorganik tersedia dalam jumlah cukup, dan (4) Pupuk anorganik mudah diangkut karena jumlahnya relatif sedikit dibandingkan dengan pupuk organik.  Pupuk anorganik mempunyai  kelemahan, yaitu selain hanya mempunyai unsur makro, pupuk anorganik ini sangat sedikit ataupun hampir tidak mengandung  unsur hara mikro (Marsono, 2000)

D. Bentuk-bentuk Pupuk
1.      Pupuk Cair
Untuk memudahkan unsur hara dapat diserap tanah dan tanaman bahan organik dapat dibuat menjadi pupuk cair terlebih dahulu. Pupuk cair menyediakan nitrogen dan unsur mineral lainnya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman
2.      Pupuk Padat
Untuk membantu pertumbuhan tanaman dapat dilakukan dengan pupuk yang padat. Pupuk padat lebih lama untuk diserap tanaman. Karena harus diubah dan mencampur dahulu didalam tanah agar dapat dimanfaatkan dengan baik ( Hardjowigeno,2004 )

E. Teknik Aplikasi Pupuk
a. Cara Aplikasi Pupuk Kimia
  • Larikan
Caranya, buat parit kecil disamping barisan tanaman sedalam 6-10 cm. Tempatkan upuk didalam barisan tersebut, kemudian tutup kembali. Pada jenis pepohonan, larikan dapat dibuat melingkar disekeliling pohon dengan jari-jari 0,5-1 kali jari-jari tajuk. Pupuk yang tidak mudah menguap dapat langsung ditempatkan di atas tanah
  • Pemberian Secara Merata Diatas Permukaan Tanah
Cara ini biasanya dilakukan sebelum penanaman. Setelah penebaran pupuk lanjutkan dengan pengolahan tanah, seperti pada aplikasi kapur dan pupuk organik. Tidak disarankan untuk menebar pupuk urea karena sangat mudah menguap.
  • Pop Up
Caranya, pupuk dimasukkan ke lubang tanaman benih atau bibit. Pupuk yang digunakan harus memiliki indeks garam yang rendah agar tidak merusak benih atau biji. Lazimnya, menggunakan pupuk SP 36, pupuk organik atau pupuk slou release.
  • Penugalan
Caranya, tempatkan pupuk ke dalam lubang disamping tanaman, sedalam 10-15 cm. Lubang tersebut dibuat dengan alat tugal. Kemudian setelah pupuk dimasukkan, tutup kembali lubang dengan tanah untuk menghindari penguapan.
  • Fertifasi
Pupuk dilarutkan dalam air dan disiramkan pada tanaman melalui air irigasi. Lazimnya, cara ini dilakukan tanaman yang pengairannya menggunakan sistem sprinkle.
b. Cara Aplikasi Pupuk Organik
Penebaran pupuk organik sebaiknya diikuti dengan pengolahan tanah seperti pembajakan atau penggemburan tanah agar pupuk organik dapat mencapai lapisan tanah yang lebih dalam.
            Pemberiaan pupuk organik dengan dosis kecil tetapi sering lebih baik daripada dosis banyak yang diberikan sekaligus
Pada media tanam pot, perbandingan antara kompos dan tanah yang ideal adalah 1:1. Sementara itu, perbandingan pupuk kandang dan tanah yang ideal adalah 1:3.
Jika harus menggunakan pupuk organik yang belum terurai sempurna harus diberi jeda waktu antara pemberian pupuk organik dan penanaman bibit yaitu minimal satu minggu (Novitam,1999).

F. Kelebihan dan Kekurangan Pupuk Organik dan Anorganik
a. Kelebihan:
ü  tidak menyebabkan polusi lingkungan
ü  memiliki kandungan hara makro dan mikro yang cukup dibutuhkan oleh tanaman
ü  meningkatkan aktivitas biologi tanah mampu menekan Al dengan membentuk kompleks Al-organik pada tanah masam
ü  meningkatkan KTK
ü  memperbaiki struktur tanah
ü  meningkatkan kemampuan tanah menahan air
b.Kekurangan:
jumlah yang dibutuhkan dalam jumlah yang banyak akibat rendahnya hara makro yang terkandung didalamnya kurang ekonomis dalam transpotasi ketersediaan hara lambat
Kelebihan dan kekurangan pemberian pupuk anorganik
a.       Kelebihan
ü  Pemberiannya dapat terukur dengan tepat
ü  Kebutuhan tanaman akan hara dapat dipenuhi dengan perbandingan yang tepat
ü  Pupuk anorganik tersedia dalam jumlah cukup
ü  Pupuk anorganik mudah diangkut karena jumlah nya relatif sedikit dibandingkan dengan pupuk organik
b.      Kekurangan
ü  Selain hanya mempunyai unsur makro, pupuk anorganik ini sangat sedikit ataupun hampir tidak mengandung unsur hara mikro.
ü  Meninggalkan residu ke dalam tanah
ü  Dalam jangka panjang akan merusak sifat fisik, kimia dan biologi tanah
ü  Degradasi unsur hara ( Mansono,2000).

III. PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pupuk
Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non-organik (mineral). Pupuk berbeda dari suplemen. Pupuk mengandung bahan baku yang diperlukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sementara suplemen seperti hormon tumbuhan membantu kelancaran proses metabolisme. Meskipun demikian, ke dalam pupuk, khususnya pupuk buatan, dapat ditambahkan sejumlah material suplemen.
Dalam pemberian pupuk perlu diperhatikan kebutuhan tumbuhan tersebut, agar tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat makanan. Terlalu sedikit atau terlalu banyak zat makanan dapat berbahaya bagi tumbuhan. Pupuk dapat diberikan lewat tanah ataupun disemprotkan ke daun. Salah satu jenis pupuk organik adalah kompos. 

B.     Pupuk Berdasarkan Sumber Bahan

Dilihat dari sumber pembuatannya, terdapat dua kelompok besar pupuk: (1) pupuk organik atau pupuk alami (misal pupuk kandang dan kompos) dan (2) pupuk kimia atau pupuk buatan. Pupuk organik mencakup semua pupuk yang dibuat dari sisa-sisa metabolisme atau organ hewan dan tumbuhan, sedangkan pupuk kimia dibuat melalui proses pengolahan oleh manusia dari bahan-bahan mineral. Pupuk kimia biasanya lebih "murni" daripada pupuk organik, dengan kandungan bahan yang dapat dikalkulasi. Pupuk organik sukar ditentukan isinya, tergantung dari sumbernya; keunggulannya adalah ia dapat memperbaiki kondisi fisik tanah karena membantu pengikatan air secara efektif.

C.    Pengaruh Dosis Pupuk Organik dan Anorganik terhadap Hasil Padi dan Sifat Kimia Tanah

Untuk pembahasan kali ini mengenai pengaruh dosis pupuk terhadap hasil padi dan sifat kimia tanah, pupuk disini merupakan  suatu hal yang harus kita terima untuk proses pertanian agar menjadi lebih baik/subur tanaman. Suatu tumbuhan sangat tergantung kepada pupuk karena dengan adanya pupuk maka tumbuhan dapat maksimal dalam perkembangannya. dosis pupuk untuk tanaman padi sangatlah variatif sekali antara daerah yang satu dengan yang lain, antara petani yang satu dengan petani yang lain dan antar musim juga berbeda.  Jadi untuk pemberian dosis padi itu sendiri mungkin ada baiknya cobalah dengan dosis yang kecil dulu kalau hasilnya kurang bagus baru dinaikkan dosisnya pada musim yang akan datang karena  harus juga  lebih paham dengan kondisi tanah tanah yang ada di suatu daerah tentunya berbeda beda tipe  dan keadaan dari tanah itu sendiri  pun dosis yang diberikan harus sesuai juga dengan keadaan dari tanah tersebut.
Sebagai gambaran saja untuk tanah normal pemerintah memberikan rekomendasi pupuk untuk tanaman padi sebagai berikut, Urea sebesar 200 kg - 250 kg, SP36 100 kg - 150 kg dan KCl 75 kg - 100 kg. Jika menggunakan NPK dosisnya adalah 100 kg urea dan 300 kg NPK. Itu hanya dosis anjuran, untuk menentukan dosis secara tepat maka kita sendiri yang harus melakukan uji coba pada tanah milik  sendiri baik itu antar musim maupun antar lokasi.             
Hipotesis yang ada Semakin subur tanah sawahnya, semakin sedikit tambahan pupuk untuk makanan tanaman dari padi itu sendiri. Secara teoritis efisiensi penggunaan pupuk urea sebesar 30 – 40 % sehingga 60 – 70 % pupuk urea yang diberikan tanaman hilang ke udara melalui proses denitrifikasi. Sementara itu efisiensi penggunaan pupuk SP-36 berkisar 20 –25 %, sisa P yang tidak terserap tanaman terakumulasi dalam lapisan tanah. Efisiensi penggunaan pupuk KCl juga relatif rendah yaitu berkisar 30 – 40 % namun hara K yang tidak terserap tanaman tidak hilang ke udara tetapi terakumulasi di dalam lapisan tanah. Oleh karena itu pemberian pupuk P dan K tidak harus setiap musim namun Pemberian pupuk P dan K setiap 4 dan 6 musim sekali ditujukan untuk menggantikan P dan K yang terangkut tanaman saat panen. Efisiensi penggunaan pupuk urea dapat ditingkatkan melalui pemberian urea secara terbagi  pada waktu tanaman umur 7-10 hari.Pengaruh dari dosis pemberian pupuk itu sendiri bagi tanaman padi  dapat mempengaruhi tinggi tanaman , jumlah batang maksimum jumlah batang produktif dan untuk hasil dari panen untuk padi dapat mempengaruhi jumlah pada gabah yang dihasilkan  dan  berat gabah.
Untuk pengaruh dosis pupuk bagi sifat kimia tanah itu sendiri,penggunaan pupuk organik dan pengairan yang bersifat aerob sangat tepat diaplikasikan pada tanah yang memiliki kandungan liat tinggi seperti tanah vertisol, Kandungan liat pada tanah vertisol mencapai lebih dari 30%, hal ini menyebabkan tanah vertisol digolongkan ke dalam tanah berat yaitu tanah yang sukar dikerjakan. Aplikasi pupuk organik diharapkan mampu memperbaiki struktur tanah liat, serta teknik pengairan yang lebih aerob dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi serta mampu menghemat penggunaan air di musim kering.
Pengaruh  dosis pupuk anorganik bagi lingkungan khususnya pada tanah dapat memberikan dampak negatif bila dilakukan secara terus menerus karena dapat berakibat negatif pada perkembangan mikroorganisme di dalam tanah yaitu banyak yang mati sehingga mikroorganisme tersebut tidak lagi dapat menguraikan bahan organik di dalam tanah yang akibatnya sisa-sisa pupuk yang tidak terserap oleh akar tanaman akan terakumulasi di dalam tanah dan mempengaruhi kondisi tanah menjadi mengeras, bergumpal, dan pH menurun.
D.    Pengaruh Pupuk Organik Dan Anorganik Terhadap Kandungan Logam Berat Dalam Tanah Dan Jaringan Tanaman
Terkadang terjadi degradai pada lahan pertanian. Salah satu bentuk degradasi lahan pertanian yang terjadi akibat tsunami adalah terjadi pencemaran, baik limbah padat maupun limbah cair.
Setelah terjadi degradasi pada lahan pertanian, diperkirakan kandungan lo-gam berat yang terbawa oleh lumpur tsunami telah terakumulasi pada lahan pertanian dan apabila lahan tersebut ditanami tanaman maka akan teraku-mulasi ke dalam jaringan tanaman.
Tanah mempunyai kapasitas sangga yang terbatas terhadap logam berat. Karakteristik ini ditentukan oleh banyak faktor di antaranya pH, kan-dungan bahan organik dan kapasitas tukar kation. Keberadaan bahan organik dalam tanah selain dimanfaatkan oleh mikroorganisme sebagai sumber energinya, juga dapat bereaksi dengan logam berat mem-bentuk senyawa kompleks (organo metalic complex) sehingga dapat mengurangi sifat racun logam berat
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Konsentrasi Pb dalam tanah dan jaringan tanaman selada akibat pemberian pupuk organik dan anorganik serta apakah ada interaksi antara kedua faktor tersebut.
Selain memberikan pupuk organic di lakukan juga pemberian pupuk anorganik bertujuan untuk menjaga ketersediaan nutrisi tanaman agar tetap seimbang selama proses pertumbuhannya. Di-asumsikan keberadaan pupuk NPK ini akan semakin penting jika proses remediasi biologis tanah oleh pupuk organik pada tanah yang berdampak tsunami memberi efek yang baik.
Sebaliknya tanpa pemberian pupuk, terutama pada tanah-tanah yang bermasalah menyebabkan tanaman mengalami defisiensi unsur hara yang diperlukan untuk sintesis biomolekul, akibatnya proses pertumbuhan tanaman menjadi tertekan dan terganggu. Dan tanaman yang mengalami kekurangan unsur hara akan terganggu proses metabolismenya sehingga pertumbuhan tanaman menjadi terhambat
Fenomena tersebut menunjuk-kan bahwa efek positif pupuk organik tidak berlaku instan, tetapi butuh waktu tertentu untuk mempengaruhi kesubur-an tanah secara maksimal. Penelitian ini membuktikan bahwa pengaruh tersebut baru mulai terlihat setelah tanah diberakan selama 15 hari setelah panen pertama. Pada masa tersebut telah terjadi berbagai proses remediasi pada tanah media tanam baik secara fisika, kimia, terutama biologis. Aki-batnya, pada penanaman berikutnya, pupuk organik memberikan efek lebih baik dibandingkan dengan penanaman pertama.
Kaitannya adalah terletak pada kondisi pupuk organik yang digunakan sebagai amelioran pada tanah media tanam. Setyorini (2005) menyatakan bahwa penggunaan pupuk organik perlu diperhatikan kualitasnya. Salah satu kriteria kualitas tersebut adalah pencemaran logam berat pada pupuk tersebut. Umumnya hal tersebut sangat tergantung pada bahan dasarnya. Bahan dasar dari sisa tanaman sedikit mengandung bahan berbahaya, tetapi pupuk kandang, limbah industri dan limbah kota banyak mengandung bahan berbahaya logam berat.
Sedangkan pupuk anorganik telah terbukti tidak memiliki kemam-puan meredam transpor ion ke jaringan tanaman. Ion-ion logam berat Pb hanya dapat dijerap oleh sistem yang kompleks dalam sistem larutan tanah. Sistem tersebut baru aktif jika terdapat bahan organik (asam organik) dalam kondisi yang optimal.
Pergerakan ion-ion logam berat dapat berlangsung selain secara fisika juga secara biologi. Pergerakan (dinamisasi) ion logam berat ini akan lebih efisien jika berlangsung secara biologi (bioremoval). Proses bio-removal selain murah, cepat dan lebih aman karena sistem ini dapat memperbaiki ulang sistem yang tercemar. Semua proses tersebut dapat berjalan jika bahan dan senyawa organik ikut terlibat.
Pemberian pupuk organik, berpengaruh nyata terhadap berat berangkasan basah tanaman selada pada penanaman kedua. Residu Pb pada akar tanaman tidak dipe-ngaruhi oleh pemberian pupuk organik, kecuali residu dalam jaringan daun dan media tanam yang lebih rendah secara nyata. Residu Pb tertinggi dalam daun dijumpai pada pemberian pupuk organik 0 ton/ha, sedangkan yang terendah pada pemberian pupuk organik 45 ton/ha tetapi tidak berbeda nyata dengan dosis 15 dan 30 ton/ha.
Pemberian pupuk anorganik berpengaruh nyata terhadap berat basah berangkasan tanaman. Pu-puk anorganik NPK mempe-ngaruhi residu Pb dalam jaringan akar tanaman, Residu Pb tertinggi dalam jaringan akar dijumpai pada perlakuan tanpa pemberian pupuk anorganik.
Terdapat interaksi yang nyata di antara kedua faktor yang dicoba terhadap berat berangkasan basah tanaman selada, yang menunjukkan bahwa pemberian pupuk anorganik 1000 kg/ha, memberikan berat berangkasan basah tanaman selada lebih baik jika diikuti dengan pemberian pupuk organik kandang 15 ton/ha
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan pupuk organik jenis lain, baik pupuk organik padat maupun organik cair. Hal yang menjadi kendala dalam penelitian ini adalah kenyataan yang menunjukkan bahwa kon-sentrasi logam berat Pb pada pupuk kandang yang digunakan relatif agak tinggi. Cakupan penelitian ini juga masih terbatas, baik jenis logam berat maupun wilayah sampel tanah yang diambil sebagai sampel pengujian. Oleh karena itu penelitian ini masih sangat terbuka untuk dilanjutkan pada cakupan wilayah yang lebih luas, untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar