Karena hidup bagai menari diatas kerikil kecil, Man jadda wa jada! ^_^

Kamis, Juni 14, 2012

Hukum Jual Beli

Kata Pengantar
            Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah swt, yang telah memberikan hidayah-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Agama Islam ini. Makalah yang kami buat satu bab ini berisi materi pembelajaran Agama Islam mengenai Hukum Jual Beli.        
            Makalah ini memberi perhatian yang besar terhadap ilmu pengetahuan Agama Islam karena didalam makalah ini menyajikan aplikasi Agama Islam dalam kegiatan sehari-hari khususnya dalam bidang perekonomian.
            Dalam makalah ini siswa akan mempelajari materi yang berkenaan dengan kegiatan  Hukum Islam Jual Beli seperti: Jual beli dalam pandangan islam, Riba, Kerja sama ekonomi yang dilengkapi dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang relevan sehingga mempermudah untuk mempelajarinya. Daftar istilah (takrif) dan ikhtisar juga diberikan untuk memperjelas isi materi makalah ini.
            Dengan mempelajari materi ini siswa diharapkan memahami isi materi serta menjadi generasi muda Islam yang saleh/salehah, jujur, aktif, dan bermanfaat bagi masyarakat. Akhir kata, tiada gading yang tak retak, demikian pula dengan makalah ini, masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun tetap kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini.



Palembang, Oktober 2011
                                                                                                                                   
                                                                                                                     Penulis


Pendahuluan
1.        Latar Belakang 
Tidak bisa di pungkiri lagi manusia hidup di dunia ini dengan beragamkemampuan dan kebiasaan yang berbeda-beda, saling ingin memiliki satu sama lain,mereka saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya, dari mulai pemahaman, ilmu, pendidikan, bisnis, dan jual beli, Hanya untuk menyambung hidup. Segala cara mereka lakukan apapun rintangannya untuk mencari harta (uang) dan salah satunya dengan jual beli.
          Kata jual beli mungkin sudah tidak asing lagi didengar namun perlu diperhatikan bahwa dalam jual beli ternyata tidak semudah dengan apa yang kita bayangkan, ada bermacam-macam jual beli ada yang di bolehkan dan ada juga yang dilarang. Olehkarena itu maka kami akan mencoba sedikit membahas tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan jual beli.

2.         Tujuan

            Memberikan informasi tentang Hukum Jual beli terhadap pandangan islam, menjelaskan asas-asas transaksi ekonomi dalam islam, member contoh interaksi ekonomi dalam islam, menerapkan transakasi ekonomi ekonomi islam dalam kehidupan sehari-hari.
3.    Perumusan Masalah
       1. Apakah pengertian jual beli?
       2. apa saja Rukun dan syarat jual beli?
       3. Apa saja jenis-jenis jual beli yang dilarang?
       4. Apakah yang dimaksud dengan Riba’?


DAFTAR ISI
Kata Pengantar ……………………………………………………………………….2
Pendahuluan     ………………………………………………………………………. 3
Daftar Isi          ………………………………………………………………………. 4
Hukum jual beli ………………………………………………………………. 5
A.     Jual beli dalam pandangan islam      ………………………...……. 6
1)      Pengertian Jual beli       ……………………………………… 6
2)      Hukum Jual Beli            ……………………………………… 7
3)      Akad Jual Beli              ……………………………………… 8
4)      Rukun Dan Syarat Jual Beli       ……………………………...  9
5)      Macam-Macam Jual Beli          ……………………………... 10
6)      Jual Beli Yang Dilarang Islam    ……………………    10
B.     Riba …………………………………………………………… 16
1)      Definisi Riba’    ……………………………………………    16
2)      Hukum Riba’    ……………………………………………    16
3)      Jenis-jenis Riba’           …………………………………...     17
C.     Kerja Sama Ekonomi ………………………………………..    17
1)      Syirkah …………………………………………….   17
2)      Perbankan        …………………………………………….   19
3)      Lembaga Keuangan nonbank    ……………………………    19
Kesimpulan      …………………………………………………………………….. 21
Daftar Pustaka …………………………………………………………………….    22











يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَ‌ٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿٩﴾ فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿١٠﴾ وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا ۚ قُلْ مَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ مِّنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ ۚ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ ﴿١١﴾
9)Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual-beli . Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui 10) Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. 11) Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki.
        Islam melihat konsep jual beli itu sebagai suatu alat untuk menjadikan manusia itu semakin dewasa dalam berpola pikir dan melakukan berbagai aktivitas, termasuk aktivitas ekonomi. Pasar sebagai tempat aktivitas jual beli harus, dijadikan sebagai tempat pelatihan yang tepat bagi manusia sebagai khalifah di muka bumi. Maka sebenarnya jual beli dalam Islam merupakan wadah untuk memproduksi khalifah-khalifah yang tangguh di muka bumi. 

A.      Jual Beli dalam Pandangan Islam

1.       Pengertian Jual Beli
       Jual beli menurut bahasa adalah al-Bai’, al-Tizarah dan al-Mubadalah,yang artinya: Q.S. Al Fathir: 29

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا
رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ ﴿٢٩﴾

Artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Al-Quran dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi.

       Sedangkan menurut Istilah adalah menukar barang denganbarang atau barang dengan uang dengan jalan melepaskan haq milikdari yang satu kepada yang lainnya atas dasar saling merelakan dansesuai dengan hukum syara. Yang dimaksud dengan sesuai dengan hukum-hukum syara ialahsesuai dengan syarat, rukun serta hal-hal lainnya yang ada kaitannyadengan jual beli. Jual beli menurut Ulama Malikiiyah ada dua macam,yaitu jual beli yang bersifat umum dan jual beli yang bersifat khusus. 
Jual beli dalam arti umum ialah suatu perikatan tukar-menukar sesuatu yang bukan kemanfaatan dan kenikmatan.

            Perikatan adalah akad yang mengikat kedua belah pihak. Sedangkan jual beli dalam arti khususialah ikatan tukar-menukar sesuatu yang bukan kemanfaatan danbukan kelezatan yang mempunyai daya tarik, 
penukarannya bukan mas dan perak, bendanya dapat di realisir dan ada seketika (tidak ditangguhkan), tidak berupa hutang baik itu ada dihadapan sipembeli maupun tidak.
          Adapun jual beli menurut terminologi, para ulama berbeda pendapatdalam mendefenisikannya, antara lain:a.Menurut ulama Hanafiyah
Pertukaran harta (benda) dengan harta berdasarkan cara khusus orang dibolehkan)”

2.            Hukum Jual beli
Dalam Qur’an Surat Al Baqoroh ayat 275,

. . . الرِّبَارَّ مَ وَحَرَّ الْبَيْعَ اللَّهُ وَأَحَلَّ. . .

 

Artinya:

 Allah menegaskan bahwa: “...Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba...”.

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا فَضْلًا مِّن رَّبِّكُمْ ۚ
Artinya:
Bukankah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Tuhanmu.
 Hal yang menarik dari ayat tersebut adalah adanya pelarangan riba yang didahului oleh penghalalan jual beli. Jual beli (trade) adalah bentuk dasar dari kegiatan ekonomi manusia. Kita mengetahui bahwa pasar tercipta oleh adanya transaksi dari jual beli.
Pasar dapat timbul manakala terdapat penjual yang menawarkan barang maupun jasa untuk dijual kepada pembeli. Dari konsep sederhana tersebut lahirlah sebuah aktivitas ekonomi yang kemudian berkembang,  menjadi suatu sistem perekonomian. Artinya jual beli yang jujur, tampa diiringi kecurangan-kecurangan mendapat berkat dari Allah.


3.            Akad Jual Beli

Orang yang melakukan akad hendaknya orang baligh yang berakal sehat dan tidak terhalang untuk melakukan jual beli. Seorang penjual harus memiliki barang yang dijualnya atau mendapat ijin untuk menjualkannya.

·          Shighotul Aqd
      Shighotul aqd adalah bentuk yang dengannya terjadi transaksi jual beli berupa ijab (penyerahan) dan Qobul (penerimaan) jika akad itu disepakati oleh kedua belah pihak.
Diantara syarat shighotul aqd adalah
1.    Ada kesepakatan antara ijab dan qobul pada barang yang mereka saling rela berupa barang yang dijual dan harga barang. Jika kedua belah pihak tidak sepakat, maka akad (jual beli) tidak sah.
2.    Hendaknya tempat akad jadi satu, yaitu ijab dan qobul dalam satu majlis dengan hadirnya     dua orang yang melakukan transaksi secara bersamaan. Atau dalam satu tempat yang     diketahui satu pihak yang tidak hadir ketikaijab.
3.    Bentuk ungkapan yang dipakai berupa kata kerja masa lalu (shighoh madliyah) misal penjual berkata,”telah kujual padamu” dan pembeli berkata,” telah ku beli darimu”atau dapat berbentuk masa sekarang jika yang diinginkan pada waktu itu,seperti sekarang aku jual dan sekarang aku beli. Namun jika yang diinginkan masa yang akan datang atau terdapat kata yang menunjukkan masa datang dan semisalnya, maka hal itu baru merupakan janji untuk berakad. Janji untuk berakad tidak sah sebagai akad sah, karena itu menjadi tidak sah secara hokum.
        Menurut Imam Syafi’I jual beli itu tidak sempurna kecuali jika pembeli berkata,”aku sudah membeli”.
Ijab qobul dapat berupa perkataan,misalnya seorang pembeli berkata,” juallah barang ini padaku”, kemudian penjual berkata “aku jual ini padamu’. Bisa juga berupa perbuatan, seperti seorang pembeli berkata,”juallah pakaian ini padaku” kemudian penjual memberikan pakaian yang dimaksud kepada pembeli.


4.              Rukun Dan Syarat Jual Beli

A. Rukun Jual beli
Menurut jumhur ulama rukun jual beli itu ada empat :
1.      Akad
2.      Penjual
3.      Pembeli ( Al Aqid)
4.    Barang yang dijual

B. Syarat jual beli
            Syarat menurut pengertian Fuqoha’ adalah sesuatu yang menyebabkan tidak ada sesuat itu menjadi tidak adanya sesuatu, maka dari itu jika syarat itu tidak ada, jual beli menjadi tidak sah. Dalam jual beli ada beberapa syarat yang harus terpenuhi agar jual beli tersebut menjadi sah.

C.    Syarat sah ijab qabul

1.      Tidak boleh ada yang memisahkan
2.      Pembeli tidak boleh diam saja setelah penjual menyebutkan ijab
3.      Tidak boleh diselipi kata-kata lain antara ijab dan qabul

D.     Syarat orang yang mengadakan transaksi (Al Aqid)

        Orang yang melakukan akad harus orang yang berakal dan Mumayyiz, maka dari itu tidak sah akad orang gila, mabuk dan juga anak kecil yang belum mumayyiz . Apabila ada orang gila kadang-kadang sembuh dan kadang-kadang gila, maka apa yang diakadkan ketika ia sembuh hal itu menjadi sah dan apa-apa yang diakadkan ketika gial itu tidak sah. Akad anak kecil yang mumayyiz dinyatakan sah jika mendapatkan ijin dari walinya.





E.      Syarat barang yang diperjualbelikan

     Berkenaan dengan barang yang dijual terdapat tujuh syarat yaitu;
1.      Barang yang dijual harus bersih dan tidak najis 
2.      Barang yang dijual ada manfaatnya
3.      Barang yang dijual dapat dihitung waktu pennyerahannya secara syara’ dan rasa.
4.      Barang yang dibeli harganya diketahui.
5.      Barang yang diakadkan ada di tangan
6.      Barang milik sendiri
7.      tidak boleh dikaitkan dengan hal lain
                
5.        Macam- Macam Jual Beli

          Ditinjau dari hukumnya jual beli ada dua macam yaitu jual beliyang sah menurut hukum dan batal menurut hukum. Jual beli yang sahialah jual beli yang memenuhi syarat dan rukun-rukunnya dan jual beliyang batal ialah sebaliknya. Sedangkan bila ditinjau dari segi pelakuakad (subjek) jual beli terbagi tiga bagian yaitu dengan lisan, pelantara atau utusan, dan perbuatan.
        Akad jual beli yang dilakukan denganlisan adalah akad yang dilakukan oleh kebanyakan orang,orang bisu diganti dengan isyarat.
       Akad jual beli melaluiutusan atau perantara seperti melalui POS dan Giro, jual beli ini dilakukan antarapenjual dan pembeli tidak berhadapan dalam satu majlis akadtetapimelalui pos dan giro. Jual beli dengan perbuatan (saling memberikan) atau dikenal dengan istilah 
Muat’hahialah mengambil danmemberikan barang tampa ijabdan qabul, seperti seorang mengambilrakok yang sudah bertuliskan label harganya.

6.   Jual Beli yang dilarang Islam
        Rasulullah Saw melarang sejumlah jual beli, karena di dalamnya terdapat unsur gharar, yang membuat manusia memakan harta orang lain dengan batil. Dan di dalamnya terdapat unsur penipuan yang dapat menimbulkan kedengkian, konflik dan permusuhan diantara manusia.

Jual beli yang dilarang karena merugikan atau terdapat unsur penipuan

A.       Jual beli seorang muslim atas muslim yang lain
            Rasulullah shalallahu’alahi wasallam bersabda

janganlah seseorang menawar (sesuatu)atas penawaran saudaranya
            Imam Malik menafsirkannya sama dengan larangan Nabi agar seseorang tidak mengadakan tawaran atas tawaran orang lain. Yakni dalam keadaan si penjual sudah cenderung kepada penawar dan sedikit lagi dicapai kesepatan antara keduanya. Imam Syafi’i berpendapat bahwa maksud hadist tersebut ialah dalam jual beli sesudah terjadi dengan lisan, sedang kedua belah pihak belum berpisah, lalu datang orang lain untuk menawarkan barangnya yang lebih baik.Fuqoha’ Amshar (berbagai negri) menyatakan bahwa jual beli tersebut makruh.

B.       Mencegat barang dagangan di luar kota

            Imam Malik berpendapat bahwa yang dimaksud oleh larangan tersebut adalah orang-oarng pasar, agar si pencegat tidak memonopoli barang dagangan tersebut dengan harga yang murah tanpa sepengatuhan orang-orang pasar. Menurutnya, seseorang tidak boleh barang dagangan hingga sampai ke pasar. Larangan ini berlaku manakala tempat pencegatan itu dekat (dengan kota). Tetapi jika tempat tersebut jauh dari kota, maka hal itu tidak ada larangan.
Sedangkan menurut Imam Syafi’i, larangan tersebut dimaksudkan untuk menjaga si penjual agar tidak tertipu oleh pencegat dagangan karena tidak mengetahui harga di kota. Jika jual beli itu terjadi, maka pemilik dagangan boleh memilih sesukanya antara melanjutkan jual beli atau menolaknya. Pendapat ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Rodhiyallahu ‘anhu. Rasulullah shalallahu’alahi wasallam bersabda :
“Janganlalah kamu mencegat barang dagangan, barang siapa mencegat sesuatu darinya, kemudian membelinya, maka pemilik barng boleh memilih(antara melanjutkan jual beli atau tidak) manakala ia telah sampai di pasar”.

C.          Penjualan orang kota atas orang desa atau sebaliknya

Nabi bersabda :
”orang kota tidak boleh menjual untuk orang desa dan biarkan manusia memperoleh rizki dari Allah sebagian mereka dari sebagian yang lain.
            Para ulama berselisih pendapat dalam menafsirkan larangan Nabi tentang jual beli Ahlu Hadhar (orang kota) atas orang desa (ahlu badiyah).
            Imam Syafi’i berpendapat bahwa jika jual beli seperti itu terjadi, maka jual beli tersebut sempurna dan boleh. Berdasarkan sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam “ Biarkanlah manusia itu di beri rizki oleh Allah sebagian mereka dari sebagian yang lain”.
Jadi jika orang desa atau orang asing datang ke suatu kota dengan maksud menjual barangnya di pasar dengan harga pada waktu itu, maka orang kota tidak boleh berkata kepadanya,”serahkan barangmu padaku dan aku akan menjualkannya untukmu esok hari atau beberapa hari lagi dengan harga yang lebih mahal dari harga hari ini.

D.      Jual beli Najasy

            Jual beli Najasy ialah menambah (menawar) harga suatu barang dengan harga yang tinggi tapi tidak bermaksud untuk membelinya, agar para penawar tertarik untuk membelinya. Najasy (kecohan) yang dimaksud adalah apabila seseorang menambah harga (tawaran) suatu barang , padahal tidak ada keinginan pada dirinya untukmembelinya. Perbuatannya itu dimaksudkan untuk meguntungkan penjual dan merugikan pembeli Madhab Zhahiri berpendapat bahwa jual seperti itu batal. Sedangkan menurut Imam Malik tipuan tak ubahnya seperti cacat, sedangkan bagi pembeli boleh memilih, jika ingin mengembalikan, ia boleh mengembalikan. Dan jika ingin menahan, ia boleh menahannya. Sedangkan Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i berpendapat bahwa jika jual beli itu terjadi, maka berdosa. Tetapi jual beli itu diperbolehkan. Seorang muslim tidak boleh berkata pada pembeli yag ingin membeli suatu barang,”Barang ini dibeli dengan harga sekian.” Ia berkata bohong untuk menipu pembeli tersebut, baik ia bersekongkol dengan penjual atau tidak.
F.  Jual beli air
            Air sungai, Air laut, mata air dan hujan semuanya milik manusia bersama, tak ada seorang pun yang berwenang lebih utama dari yang lain, dia tidak boleh dijual dan dibeli selama masih ditempat aslinya. sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud bahwa Rasulullah shalallahu’alahi wasallam bersabda:
 orang-orang Islam itu berserikat dalam tiga hal yaitu : Air, tempat penggembalaan dan api”.
 Rasulullah shalallahu’alahi wasallam bersabda:
 “Nabi melarang jual beli Air.” Dalam riwayat lain menyebutkan “ Nabi melarang menjual kelebihan air agar dapat menghalang-halangi rumput”.

            Para ulama berselisih pendapat dalam menafsirkan larangan tersebut. Sebagian mereka mengartikannya pada keumumannya.mereka mengatakan bahwa tidak boleh menjual air secara mutlak baik dari sumber,kolam, atau mata air, baik ditanah milik sendirimaupun bukan milik sendiri. 

G. Jual beli induk tanpa anak dan sebaliknya.

            Termasuk dalam masalah ini adalah Fuqoha telah bersepakat melarang jual beli ibu dengan memisahkan ibu dari anaknya. Sebab fuqoha telah bersepakat melarang pemisahan hamba yang dijual, yakni antara ibu dengan anaknya. Imam Malik berpendapat bahwa hukum jual beli tersebut dibatalkan,sedang menurut Imam Syafi’i dan Abu Hanifah tidak demikian. Hanya saja dalam jual beli seperti itu penjual dan pembeli sama-sama berdosa.
H. Larangan jual beli dari segi waktu ibadah

            Dalam syara’ larangan hanya terjadi pada saat pada saat datang kewajiban menunaikan sholat jum’at.




 Sebagaimana firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَ‌ٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿٩﴾ فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿١٠﴾
“hai orang-arang yang beriman apabila diseru untuk unutk menunaikan sholat pada hari jum’at, maka bersegaralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik baigmu jika kamu mengetahui”.

            Ibnu katsir menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan panggilan disini adalah ketika panggilan (Adzan) kedua. Oleh karena itu para ulama telah bersepakat atas pengharaman jual beli setelah adzan kedua.  Masalah ini sudah menjadi ijma’ Ulama, yakni larangan berjual beli pada saat azan sudah diserukan sesudah tergelincirnya matahari, sedang ketika itu imam sudah diatas mimbar. Melaksanakan jual beli ketika sholat wajib berwaktu sempit dan ketika azan jum’at diharamkan, dan tidak sah menurut Imam Ahmad.

7. Jual beli yang dilarang dan batal hukumnya
a.       Jual beli barang najis
b.      Jual beli serma binatang
c.       Jual beli anak binatang yang masih dalam perut induknya
d.      Jual beli secara lempar melempar
e.       Jual beli garar
f.        Jual beli makanan dengan dua kali ditakar




8.      Khiar Dalam jual Beli

Khiyar adalah mencari kebaikan dari dua perkara; melangsungkan atau membatalkan.
Jumhur Fuqoha telah bersepakat tentang bolehnya melakukan khiyar dalam jual beli. Mereka beralasan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar :
” penjual dan pembeli adalah dengan hak khiyar selama keduanya belum berpisah.” Dan berdasarkan hadits Hibban bin Munqid “dan bagimu ada hak khiyar selama tiga “
Dalam jual beli ada beberapa macam bentuk khiyar, diantaranya:

1.    Khiyar majlis yaitu ketika dua orang yang melakukan akad ( pembeli dan penjual) masih      berada dalam satu majlis dan belum berpisah, maka keduanya memepunyai khiyar untuk         melakukan jual beli atau membatalkannya, karena Rasulullah shalallahu’alahi wasallam bersabda :“Pembeli dan penjual boleh melakukan khiyar selama belum berpisah.”
2.    Khiyar syarat, yaitu salah satu dari orang yang berakad membeli sesuatu dengan syarat ia    boleh berkhiyar dalam waktu tertentu sekalipun lebih. Syarat ini boleh dari kedua belah pihak          atau salah satunya, maka dari itu keduanya terikat dengan hak pilih sampai batas waktu tersebut habis. Rasulullah shalallahu’alahi wasallam bersabda: “Kaum musliin itu berada diatas pensyaratan mereka”( diriwayatkan abu Daud dan Hakim)
     Jika waktu yang ditentukan telah berakhir dan akad tidak difasakh-kan, maka wajib            dilangsungkan jual beli. 
3.       khiyar aib
       Manusia dilarang menjual barang cacat tanpa menjelaskan kepada pembeli. Dari uqbahbin Amr, berkata : “seorang muslim itu saudara sesama muslim, tidak halal bagi seorang           muslim untuk menjual barang cacat kepada saudaranya kecuali ia jelaskan.”( Riwayat    Ahmad dan Ibnu Majah)
       Maka apabila seorang pembeli mendapat adanya cacat pada barang yang ia beli tanpa        sepengetahuanya, maka ia boleh memilih mengembalikannya.



B.    RIBA
1. Definisi Riba
            Kata Ar-Riba adalah isim maqshur, berasal dari rabaa yarbuu, yaitu akhir kata ini ditulis dengan alif. Asal arti kata riba adalah ziyadah ‘tambahan’; adakalanya tambahan itu berasal dari dirinya sendiri, seperti firman Allah swt: “maka hiduplah bumi itu dan suburlah. (QS Al-Hajj: 5). Dan, adakalanya lagi tambahan itu berasal dari luar berupa imbalan, seperti satu dirham ditukar dengan dua dirham.

2.Hukum Riba
A. Dalil dari Al quran

.وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبا
Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ

Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu saling memakan memakan harta sesamamu dengan batil kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu.

B. Dalil dari Hadits

            Dari Rafa’ah bin Rafi’ Radhiyallohu ‘anhu berkataNabi Shalallahu ‘alaihi wassalam ditanya : pekerjaan apakah yang paling baik? Maka beliau menjawab: pekerjaan seseorang yang dilakukan dengan tangannya dan setiap jual beli itu mabrur. (Diriwayatkan oleh Al Bazzar dan dishahihkan oleh Al Hakim) Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
 Sesungguhnya jual beli itu saling ridho”


C. Ijma’
            Kaum muslimin telah sepakat bolehnya melakukan jual beli, karena pada dasarnya hukum jual beli itu mubah. Imam Syafii berkata: asal mula (hukum) jual beli itu semuanya mubah, apabila ada saling ridho antara dua orang yang sedang melakukan transaksi, kecuali hal-hal yang telah dilarang oleh Rasululllah Shalallahu ‘alaihi wassalam dari jual beli tersebut.

3. Jenis-jenis Riba
a.       Riba qadr
b.      Riba Jahilliah
c.       Riba Fadl
d.      Riba Nasiah

C.    Kerjasama Ekonomi

1.       Syirkah

Sirkah berarti ikhtilath (percampuran). Para fuqaha mendefinisikan sebagai: Akad antara orang-orang yang berserikat dalam hal modal dan keuntungan. Definisi ini dari mazhab Hanafi.
قَالَ لَقَدْ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعْجَتِكَ إِلَىٰ نِعَاجِهِ ۖ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَّا هُمْ ۗ
Artinya: Dia dawud berkata “ sungguh dia tela berzalim padamu dengan meminta kambingnya, memangbanyak diantara orang-orang yang bersekutuitu berbuat zalim kepada yang lain. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dan hanya sedikitlah mereka yang begitu.

Menurut Sayyid Sabiq, Syirkah itu ada empat macam, yaitu:
1. Syirkah ‘Inan
     Syirkah ‘Inan, yaitu kerja sama antara dua orang atau lebih dalam permodalan untuk melakukan suatu usaha bersama dengan cara membagi untung atau rugi sesuai dengan jumlah modal masing-masing.

2. Syirkah Mufawadhah
     Syirkah Mufawadhah, yaitu kerja sama antara dua orang atau lebih untuk melakukan suatu usaha dengan persyaratan sebagai berikut:

     1. Modalnya harus sama banyak. Bila ada di antara anggota persyarikatan modalnya                        lebih besar, maka syirkah itu tidak sah.
     2. Mempunyai wewenang untuk bertindak, yang ada kaitannya dengan hukum.                     Dengan             demikian, anak-anak yang belum dewasa belum bisa menjadi anggota                   persyarikatan.
     3. Satu agama, sesama muslim. Tidak sah bersyarikat dengan non muslim.
     4. Masing-masing anggota mempunyai hak untuk bertindak atas nama syirkah (kerja                        sama).

3. Syirkah Wujuh
     Syirkah Wujuh, yaitu kerja sama antara dua orang atau lebih untuk membeli sesuatu tanpa modal, tetapi hanya modal kepercayaan dan keuntungan dibagi antara sesama mereka.

4. Syirkah Abdan
     Syirkah Abdan, yaitu karja sama antara dua orang atau lebih untuk melakukan suatu usaha atau pekerjaan. Hasilnya dibagi antara sesama mereka berdasarkan perjanjian seperti pemborong bangunan, instalasi listrik dan lainnya.
Bentuk Kerja samadalam bidang pertanian yaitu:
a.  Musaqah
b. Muza’ah
2.    Perbankan
a.    Prinsip perbankan syariah
1)        Pembayaran terhadap pinjaman dengan nilai yang berbeda tidak diperbolehkan
2)        Pemberi dana harus turut berbagi
3)        Islam tidak diperbolehkan menghasilkan uang dari uang
4)        Unsur gagar
5)        Investasi hanya boleh diberikan pada usaha-usaha
b.    Produk perbankan syariah
1)      Mudarabah: perjanjian antara penyedia modal dan pengusaha
2)      Musyarakah: diterapkan pada partnership atau joint venture
3)      Murabahah: penyaluran dana dalam bentuk jual beli
4)      Takaful:bentuk asuransi
5)      Wadi’ah:penitipan dana
6)      Deposito Mudarabah: menyimpan dana dalam jangka waktu yang lama.

3. Lembaga Keuangan Nonbank
a.    Koperasi
                Dari segi etimologi kata “koperasi” berasal dan bahasa Inggris, yaitu cooperation yang artinya bekerja sama. Sedangkan dari segi terminologi, koperasi ialah suatu perkumpulan atau organisasi yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum yang bekerja sama dengan penuh kesadaran untuk meningkatkan kesejahteraan anggota atas dasar sukarela secara kekeluargaan.   
Koperasi dari segi bidang usahanya ada yang hanya menjalankan satu bidang usaha saja, misalnya bidang konsumsi, bidang kiedit atau bidang produksi. Ini disebut koperasi berusaha tunggal (single purpose). Ada pula koperasi yang meluaskan usahanya dalam berbagai bidang, disebut koperasi serba usaha (multipurpose), misalnya pembelian dan penjualan
.
               
            Dari pengertian koperasi di atas, dapat ditarik kesimpulan, bahwa yaag mendasari gagasan koperasi sesungguhnya adalah kerja sama, gotong-royong dan demokrasi ekonomi menuju kesejahteraan umum. Keja sama dan gotong-royong ini sekurang-kurangnya dilihat dari dua segi. Pertama, modal awal koperasi dikumpulkan dari semua anggota-anggotanya. Mengenai keanggotaan dalam koperasi berlaku asas satu anggota, satu suara. Karena itu besarnya modal yang dimiliki anggota, tidak menyebabkan anggota itu lebih tinggi kedudukannya dari anggota yang lebih kecil modalnya.
            Kedua, permodalan itu sendiri tidak merupakan satu-satunya ukuran dalam pembagian sisa hasil usaha. Modal dalam koperasi diberi bunga terbatas dalam jumlah yang sesuai dengan keputusan rapat anggota.

b.    BMT
BMT adalah lembaga ekonomi masyarakat yang bertujuan untuk mendukung kegiatan usaha ekonomi masyarakat nawah dan kecilyang dijalankan berdasarkan syariat islam.
c.    Asuransi
Di kalangan umat islam ada anggapan bahwa asuransi itu tidak islami. Allah lah yang menentukan segalanya dan memberikan rizeki kpd makhluk


Kesimpulan
·        Jual beli adalah suatu perjanjian yang dilakukan oleh kedua belah pihak dengan cara sukarela
·        Hukum jual beli adalah mubah atau boleh
·        Akad jual beli bisa dengan perkataan atau perbuatan
·        Rukun jual beli terdiri dari akad, penjual dan pembeli, dan maqkud
·        Khiar dalam jual beli yaitu khiar syarat, khiar majelis, khiar aib
·        Secara bahasa riba berarti bertambah, tumbuh, tinggi dan naik.
·        Jenis-jenis riba adalah riba qard, riba jahiliah, riba fadl, dan riba nasiah
·        Bentuk kerjasama ekonomi yaitu syirkah, perbankan, lembaga keuangan nonbank
                                                                                   

4 komentar: